Warga Desa Leowalu Adukan “Kecurangan” Pilkades ke DPRD Belu

Warga Desa Leowalu Adukan "Kecurangan" Pilkades ke DPRD Belu

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Massa pendukung Cakades nomor urut 2 Ignasius Bau Desa Leowalu,  Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL datangi Kantor DPRD Belu menyampaikan dugaan kecurangan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Leowalu, Jumat (18/10/2019).

Adapun kedatangan warga Desa Leowalu bersama Cakades Ignasius Bau untuk menyampaikan aspirasi terkait penolakan hasil Pilkades diterima oleh Wakil Ketua DPRD Belu Cyprianus Temu beserta beberapa Anggota Dewan

Warga pendukung Ignasius Bau menilai dugaan adanya kecurangan dalam Pilkades Leowalu yang dilaksanakan sejak proses awal hingga akhir pada 16 Oktober lalu. Terkait itu, massa pendukung menyatakan sikap menolak hasil perhitungan suara Pilkades.

Maximus Mau salah seorang perwakilan warga Desa Leowalu menuturkan, kedatangan mereka ke Kantor DPRD Belu untuk menyampaikan ketidakadilan dengan menyerahkan surat pengaduan atas dugaan kecurangan yang diduga dilakukan Panitia Pilkades mulai proses awal hingga akhir perhitungan suara.

“Kami datang menyampaikan pengaduan supaya dilakukan perhitungan ulang surat suara Pilkades Leowalu, kalau tidak kami minta pemilihan ulang,” kata Maximus saat ditemui media bersama ratusan warga di taman kota usai diterima Dewan.

Menurut dia, selain menyerahkan surat pengaduan terkait Pilkades Leowalu ke DPRD Belu, warga pendukung Ignasius Bau juga memberikan surat pengaduan serupa ke Bupati Belu dan Kepala Dinas PMD Belu.

Kesempatan itu, Ignasius Bau Cakades Leowalu nomor urut 2 menyebutkan, sampai dengan saat ini belum ada keputusan resmi Panitia terkait dengan hasil Pilkades Loewalu. “Kami sudah buat surat pengaduan keberatan terhadap hasil Pilkades. Belum diputuskan siapa pemenang Pilkades Leowalu,” kata Ignasius.

Diketahui dalam pemberitaan sebelumnya, ratusan warga Desa Leowalu, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu menyatakan sikap menolak hasil pemilihan Pilkades, Rabu (16/10/2019).

Penolakan ini dilakukan karena warga melihat adanya indikasi kecurangan  yang dilakukan oleh panitia pilkades.

BACA JUGA : Pilkada Belu 2020 – Dokter Agus Taolin Sebut 78 Persen Masyarakat Belu Inginkan Perubahan Kepemimpinan

BACA JUGA : Pilkades Serentak di Belu 2019 – Oknum Pol PP Batalkan Pleno Pilkades Rafae, Ini Tanggapan Kasat Pol PP

BACA JUGA : Pilkades Serentak 2019 di Belu – Panitia Pilkades Rafae Sebut Tidak Ada Masalah Tapi Ulah Oknum Pol PP Hingga Terjadi Penundaan 

Ratusan warga pemilih yang merupakan pendukung dari salah satu calon kades ini mendatangi kantor desa setempat untuk menyampaikan sikapnya ke kantor desa setempat pada Kamis (17/10/2019).

Mereka bahkan mengancam akan pindah dari desa tersebut jika permintaan mereka untuk dilakukan pemilihan ulang atau perhitungan ulang surat suara tidak digubris.

Perwakilan warga Desa Leowalu kepada wartawan Kamis (17/10/2019) yakni Agustinus Loe, Maksimus Mau dan Gregorius Tes mengatakan warga sangat kecewa dengan panitia pilkades yang tidak profesional dan terkesan memihak salah satu calon kades.

Menurut ketiganya, ada sejumlah indikasi kecurangan yang dilakukan panitia pilkades antara lain :

Pertama : Adanya perlakuan berbeda terhadap orang yang diduga mengidap gangguan jiwa yakni di TPS 1 diperkenankan mencoblos sementara di TPS 2 panitia tidak memperkenankan mencoblos.

Kedua: Adanya anak di bawah umur yang masih berusia 16 tahun atas nama Serafina tapi oleh panitia diperkenankan ikut memilih.

Tiga : Banyaknya surat suara yang dinyatakan tidak sah oleh panitia padahal di desa lain dinyatakan sah. Surat suara yang dinyatakan tidak sah itu bukan karena pencoblosan ganda atau pendobelan saat mencoblos melainkan karena lipatan surat suara tidak dibuka seluruhnya pada saat mencoblos sehingga alat coblos tembus hingga ke lipatan lainnya.

Menurut warga, hal ini tidak bisa dikatakan coblos ganda tapi lebih pada ketidakpahamnya warga pemilih karena tidak ada penyampaikan tata cara membuka, mencoblos dan melipat kembali surat suara sebelum pemilihan dimulai.

“Kami menduga ada kecurangan oleh panitia. Masa surat suara tidak sah bisa sampai 138 surat suara. Padahal tidak ada petunjuk apapun dari panitia sebelum pemilihan dimulai. Kami dengar di desa lain sah, mengapa di sini tidak sah,” ujar Gregorius Tes.

Ratusan warga ini mengaku akan mengadukan kecurangan panitia pilkades ke DPRD Belu, Panitia Pilkades tingkat Kabupaten untuk ditindaklanjuti.

“Kami akan adukan ini secara resmi ke panitia kabupaten, DPRD dan Bupati. Kalau tidak pemilihan ulang atau hitung ulang, kami tidak akui hasil ini dan akan pindah ke desa lain,” tegas ketiganya diamini warga lainnya.

Hingga berita ini ditulis, Ketua Panitia Pilkades Leowalu, Romanus Mali belum berhasil dikonfirmasi. TIMORDAILY.COM mencoba menghubungi melalui ponselnya beberapa kali terdengar nada panggilan masuk namun tidak diangkat. Dihubungi melalui layanan short message system (SMS) juga tidak dibalas.

Begitupun dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo tidak merespon panggilan telepon dan SMS pada Kamis (17/10/2019) malam.

Sementara itu Kabid Bina Pemdes Dinas PMD Belu, Adrianus Mones kepada wartawan di kantornya, Kamis (17/10/2019) malam mengatakan setiap keberatan terhadap hasil pilkades harus disampaikan secara tertulis untuk ditindaklanjuti dan terkait Pilkades Leowalu, dirinya menyebutkan bahwa belum ada keberatan tertulis dimaksud.

Untuk diketahui, Pilkades Leowalu diikuti oleh dua calon kades yakni nomor urut 1 Paskalis Tes dan nomor urut 2 Ignasius Bau. Ada 531 warga setempat yang terdaftar sebagai pemilih namun ada 404 yang menggunakan hak pilih.

Dari jumlah yang menggunakan hak pilihnya terdapat 138 surat suara tidak sah. Sedangkan perolehan suara sah dua calon antara lain, calon atas nama Paskalis Tes meraih suara sebanyak 134 dan Ignasius meraih 131 suara atau hanya selisih tiga suara. (yan/roy/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Yan Bau/Edy Bau

Loading...