Warga Belu Terjebak Calo Veteran, Setor Uang  Sukarela Rp 5 Juta dan Rp 1,3 Juta Biaya Pakaian

0
43
Warga Belu Terjebak Calo Veteran, Setor Uang  Sukarela Rp 5 Juta dan Rp 1,3 Juta Biaya Pakaian
Lambang LVRI

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Sejumlah warga Kabupaten Belu diduga telah terjebak oknum calo pengurusan calon Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Untuk mengurus administrasi calon anggota LVRI, masyarakat yang merupakan Pejuang Timor-Timur diminta untuk membayar atau menyetor uang sebanyak Rp 6.300.000 kepada oknum bernama Herman Atok.

Dilansir penanusantara.com, permintaan untuk menyetor uang sejumlah Rp 6.300.000 itu diduga dilakukan Herman Atok kepada salah satu warga Kabupaten Belu yang tidak ingin namanya disebutkan.

BACA JUGA : Anggota DPRD NTT Dukung Polisi Tuntaskan Masalah Kepengurusan LVRI dan BPMKH-VRI

BACA JUGA : Wakapolda NTT Johanis Asadoma Minta Pengurus LVRI Belu dan Malaka Gencar Sosialisasi

BACA JUGA : LVRI NTT Laporkan Ketua BPMKH-VRI NTT Stefanus Nahak dan Kawan-kawannya ke Polda

BACA JUGA : Anggota DPRD Belu Theo Manek Apresiasi Hadirnya LVRI di Belu, Membantu Ekonomi Masyarakat

Menurut warga ini, Herman Atok bahwa uang sejumlah Rp 6.300.000 itu nanti digunakan untuk kepengurusan administrasi di antaranya Rp 5.000.000 untuk uang sukarela mengurus veteran dan Rp 1.300.000 untuk biaya pakaian veteran.

Sementara persyaratan yang disiapkan di antaranya, Pas foto ukuran 4×6 4 lembar latar belakang merah, 3×4 5 lembar, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta Nikah atau Surat Nikah, untuk legalesir nantinya dilakukan di rumahnya yang dijadikan kantor.

Proses kepengurusan nantinya lewat Kupang Kantor Minvited dan langsung ke jakarta.
Herman sendiri mengaku bahwa dirinya sudah mengurus sebanyak 65 orang.

Sebelumnya, media ini (penanusantara) mencoba mengkonfirmasi ke Herman Atok, Sabtu (2/5/2020) enggan berkomentar dan menanyakan masyarakat siapa-siapa yang melaporkan.

“Masyarakat siapa-siapa yang melaporkan?” tanya Herman.

Herman pun meminta kepada wartawan untuk datang ke rumahnya yang ia gunakan sebagai kantor.

“Jadi begini, Kalau wartawan ingin bertanya kebenaran datang di kantor saya,” katanya.

Ditanya soal alamat kantor, Herman menjelaskan bahwa kantornya di Rumah di Waedomu, ia pun meminta wartawan untuk datang dan membawa masyarakat yang melakukan pengaduan.

“Dan juga datang tolong bawah dengan masyarakat yang mengadu itu tolong bawah nama lengkap,” pintanya.

Ditanya lagi soal nama kantor yang ada di rumahnya, Herman menjawab datang langsung ke rumahnya.

“Datang langsung ke rumah saya,” singkatnya.

Karena tidak tahu alamat rumahnya, wartawan mencoba menanyakan lagi tentang alamat kantor yang ada di rumahnya, Herman meminta wartawan untuk menanyakan kepada Bupati Belu Willy Lay.

“Kalau tidak tau sudah, kalau tidak tau datang lapor ke Bupati Belu baru panggil saya, begitu, sudah dengar,” tegas Herman. (penanusantara/r-1/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat