TKBM Pelabuhan Kalabahi Diminta Waspada DBD dan Corona

0
133

TIMORDAILY.COM, ALOR-Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Umum Kalabahi, Kabupaten Alor, NTT diminta untuk waspada atau menjaga diri dari ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan penularan Virus Corona.

TKBM diingatkan karena kelompok ini setiap hari beraktivitas di “pintu masuk” Kabupaten Alor dengan berinteraksi yang cukup tinggi bersama warga lain yang datang dari luar daerah.

Himbauan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal (Ditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kantor Kesehatan Pelabuhan Kupang Wilayah Kerja Pelabuhan Kalabahi dalam kegiatan optimalisasi kemandirian Masyarakat Berbudaya K3 pada era revolusi industri 4.0 berbasis tekhnologi industri yang digelar PT. Pelindo III Kalabahi di Terminal Penumpang Pelabuhan Umum Kalabahi, Alor pada Rabu (12/2/2020).

Kegiatan ini dibuka oleh General Manajer (GM) PT. Pelindo III Kalabahi, Danang Widyatmokoyang dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait dari KSOP Kalabahi, Pol Air Polres Alor, dan KP3 Laut Polres Alor.

Petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kalabahi, Soleman Outang dalam materinya mengatakan, penyakit DBD di Kabupaten Alor telah dinyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Ini jelas dia, karena jumlah penderitanya cukup banyak, bahkan telah menelan 2 orang korban jiwa. Untuk itu, minta Soleman, agar TKBM harus waspada karena cukup rentan, dan harus mengetahui gejala-gejala DBD.

“Gejalanya demam tinggi hingga 40 derajat celcius, nyeri kepala, nyeri sendi, otot dan tulang. Nyeri pada bagian belakang mata, sakit kepala, dapat menimbulkan pneunomia, mual, muntah, dan pusing. Itu gejalanya,” tandas dia.

Soleman menegaskan, jika kalau sudah alami gejala seperti itu, maka segera datang ke dokter atau puskesmas atau rumah sakit. Ingat juga minum air banyak agar tidak terjadi dehidrasi, istirahat yang cukup, dan jangan minum obat anti nyeri.

BACA JUGA : Revolusi Pertanian Malaka; Antara Paradoks dan Keberpihakan

BACA JUGA : Kasie Intel Kejari Kalabahi “Mengajar” di SMPN 2

BACA JUGA : Warga Berang dituduh Mencuri Maek Bako Milik Pemerintah di Hutan Jati Nenuk, Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL

Selain DBD, Soleman juga jelaskan tentang Virus Corona yang saat ini tengah melanda di sejumlah negara, dan untuk Indonesia sampai saat ini tidak ada kasusnya.
Oleh karena itu, Soleman minta agar semua masyarakat bisa waspada dengan sejumlah kiat.

“Kita harus waspada terhadap penyakit ini dengan cara mencuci tangan dengan air yang bersih, menghindari memegang hidung dan mulut saat tangan kotor, hindari kontak langsung dengan penderita, bersihkan alat yang dipakai, menggunakan masker ketika keluar rumah atau ditempat umum, mengolah daging dan produk hewan secara baik, dan bila mengalami gejala segera ke dokter atau rumah sakit,” jelas dia.

Sementara gejala virus ini dia menyebutkan, demam, batuk dan pilek, kesulitan bernafas, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan dapat menimbulkan pneumonia.

TKBM Diingatkan Keselamatan Kerja

TKBM yang memenuhi Terminal Pelabuhan Kalabahi itu selain diminta untuk waspada terhadap penyakit DBD dan Corona, dalam kegiatan tersebut juga oleh GM Pelindo III Kalabahi, Danang Widyatmoko mengingatkan tentang resiko keselamatan kerja. Pasalnya dalam aktivitas TKBM setiap waktu menghadapi ancaman resiko pekerjaan yang tinggi.

Danang menjelaskan, kegiatan kerja TKBM antara lain proses bongkar muat barang dari dan ke kapal, kegiatan melepaskan barang dari sling di lambung kapal dan mengangkut dari dermaga ke gudang, penataan barang digudang atau lapangan penumpukkan, dan proses pemasukan dan pengeluaran barang digudang.

“Aktivitas yang ada dapat dapat terjadi resiko atau bahaya, sepert fisik, kimia, biologi, psikososial, dan ergonomi,” tutur dia.

Bahaya fisik, Danang menyebutkan, yakni kembisingan, radiasi, getaran, panas, pencahayaan dan ketinggian. Sedangkan kimia, berupa bahan mudah meledak, bahan mudah terbakar, bahan korosif, bahan karsinogenik, dan bahan beracun.
Untuk bahaya biologi, yakni mikroorganisme berupa virus, bakteri, jamur dan fungi. Ada juga makroorganisme, yakni tenaman beracun, ular, lebah, beruang, dan sejumlah benda lainnya. Sementara untuk psikososial, adalah hubungan kerja, jam kerja, kekerasan, intimidasi, dan stress.

“Resiko kerja ini banyak kejadian di pelabuhan. Contoh kongkritnya sling putus menyebabkab kontainer jatuh dapat menindih manusia atau mobil, atau juga ketika membongkar barang yang mengandung gas beracun, dan banyak lagi,” kata Danang.

Untuk itu, Danang minta, agar TKBM dalam aktivitasnya menggunakan pengaman atau pelindung yang baik, dan yang terpenting adalah mengikuti aturan kerja yang sudah disosialisasikan.(osm/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Leave a Reply