Thomas, Penyandang Disabilitas di Atambua yang Berjuang Hidup Dari Sol Sepatu

0
370
Tomas Mali penyandang disabilitas di Kota Atambua yang memilih bekerja sebagai tukang sol sepatu., Selasa (17/12/2019). Foto : Nandito Fatin/TIMORDAILY.COM

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA-Thomas Mali seorang warga Baukoek, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua ini rela bekerja sebagai sol sepatu demi bertahan hidup.

Ia memilih untuk bekerja karena tidak ingin membebani kedua orang tuanya, walaupun dirinya seorang penyadang disabilitas (cacat kedua kaki).

“Saya kerja ini karena tidak mau membebankan orang tua saya, walau kondisi saya seperti ini,” ujarnya kepada TIMORDAILY.COM, di depan Toko Berdao Baru, Kompleks Pasar Baru Atambua, Kelurahan Beirafu, Kecamatan Atambua Barat, Selasa (17/12/2019).

Baca juga : Pembangunan Jalan Setapak Dinilai Isolasi Warga, Lurah Tulamalae Mengaku Belum Ada Laporan

Menurutnya, penghasilan setiap tak menentu, tergantung dari para pelangan. Lanjut Tomas, jelang hari raya natal penghasilan dari sol sepatu sedikit bertambah.

“Kita jahit ini kadang dapat Rp.75.000 ribu sampai Rp. 100.000 ribu per hari, itu tergantung situasi ramai atau sepi. Kalau dekat natal begini, ya paling kita dapat Rp.100.000 ribu lebih,” jelasnnya.

Baca juga : Kabar Tapal Batas – Lagi, Satgas Yonif Raider 142/KJ Resmikan Bedah Rumah dan Gelar Baksos di Belu Perbatasan RI-RDTL

Lanjutnya, di saat sepi ia hanya mendapat uang sekitar Rp.20 ribu yang digunakan untuk ongkos ojek balik ke rumah. “Kadang-kadang kita 1 hari anteru ju hanya dapat untuk uang ojek pulang pergi saja (pp) Rp 20.000  ribu saja karena itu tergantung rejeki dari Tuhan e sodara,” tutur Tomas.

Dikatakannya, selama ini ia belum mendapat bantuan dari pemerintah. Menurut Tomas, mungkin dirinya cacat sehingga layak untuk dapat bantuan.

“Sampai saat ini belum pernah saya dapatkan sama sekali, karena mungkin menurut pemerintah saya ini (cacat) tidak layak untuk dibantu to kaka (TimorDaily.com.red), jadi saya harus usaha sendiri untuk hidup ini,” pungkasnya.

Baca juga : Jelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru, Harga Telur di Belu Melonjak Tinggi, Harga Daging Stabil

Lebih lanjut Tomas mengatakan, saat musim hujan tiba, kondisinya kurang memungkinkan untuk bekerja karena kedua tongkatnya sudah rusak.

“Saya punya kendala itu kalau musim hujan setengah mati kalau mau jahit dan 2 tongkat saya ini sudah rusak (ada ikat pake kawat besi) jadi waktu mau jalan takut terlepas e,” tutur Tomas.

Baca juga : Mantan Presiden Sudan Divonis Dua Tahun Tahanan Karena Korupsi

Untuk diketahui, aktivitas menjahit sepatu dan sandal ini sudah ia geluti sejak tahun 2004 lalu, setelah dilatih dalam balai pelatihan di Flores oleh SDLB Kabupaten Belu. Uang yang didapatkan, ia bagikan kepada orang tua dan yang ia tabung.(ito/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Laporan Wartawan : Oktofianus Fatin

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply