Tanyakan Surat Tilang, Ketua PMKRI Dianiaya Oknum Polantas Kota Kupang

0
360
Tanyakan Surat Tilang, Ketua PMKRI Dianiaya Oknum Polantas Kota Kupang
Ilustrasi

TIMORDAILY.COM, KUPANG – Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, Adrianus Oswin Goleng dianiaya sejumlah oknum polisi lalulintas (Polantas) dari Polres Kupang Kota di Kantor Satlantas Polres Kupang Kota, Sabtu (18/1/2020) sekitar pukul 23.00 WITA.

Penganiayaan ini terjadi lantaran Adrianus mempertanyakan surat tilang dan SOP tilang kepada pelaku atas nama Brigpol Polce Adu dan teman-temannya yang menggelar operasi tilang di seputaran Gereja Katedral Kota Kupang.

Terhadap menganiayaan ini, Adrianus lantas melaporkan Brigpol Polce Adu ke dari Satlantas Polres Kupang di Propam POLDA NTT dengan Nomor Laporan: STPL/3/I/Huk.12.10./2020/Yanduan pada Minggu (19/1/2020) sekitar pukul 01.00 WITA dini hari.

BACA JUGA : 780 Buruh Kelapa Sawit Asal NTT di Kalimantan Timur Mogok Masal, ini Permintaan Kepada Polri dan Menaker

BACA JUGA : KPK Gagal Geledah Ruang Kerja Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto Bukan Karena Tak Ada Surat Ijin Dewas

BACA JUGA : PMKRI Atambua Gelar RUA, Servas Boko ; Mari Saling Mendukung dan Membesarkan

Tanyakan Surat Tilang, Ketua PMKRI Dianiaya Oknum Polantas Kota Kupang
Ketua PMKRI Kupang, Adrianus saat divisum.

Mengenai kronologinya, disebutkan bahwa penganiayaan tersebut berawal dari kendaraan roda dua bermerk Satria FU yang dikendarai oleh Adrianus ditilang oleh anggota Satlantas Polres Kupang Kota di depan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang sekitar pukul 23.00 WITA karena tidak mengenakan helm.

“Selesai misa, saya dan senior berinisial BP menuju ke kampung Solor, di depan Gereja Katedral, kami ditilang oleh Satlantas Polresta Kupang Kota. Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, saat ditahan saya tidak mengelak atau melawan,” ungkap Adrianus kepada TimorDaily.com, Minggu (19/1/2020).

Pada saat yang bersamaan, Adrianus sempat meminta blanko tilang. Namun, kata oknum Polantas bahwa blanko tilang tidak ada dan diarahkan untuk mengambil blanko di Kantor Satlantas Polresta. Motor Satria FU itu akhirnya dibawa anggota Polantas ke kantor tersebut.

Setelah itu, Adrianus bergegas ke Kantor Satlantas Polresta Kupang Kota untuk mengambil blanko tilang.

Di Kantor Satlantas, Adrianus menanyakan mekanisme atau SOP penilangan yang berlaku, bahwasanya, lokasi tilang tanpa papan informasi bahkan blanko tilang tidak diberikan malah diarahkan ke kantor Satlantas.

“Sebagai orang awam, niat saya mempertanyakan untuk memperoleh alasan dan informasi secara utuh dari pihak Satlantas agar tidak menimbulkan kecurigaan dan penilaian negatif. Namun hal ini diabaikan, malah saya dipukul, diintimidasi dan diusir,” terang mantan Ketua PERMADA Kupang itu.

Mendengar perkataan itu, menurut keterangan Oswin dan beberapa saksi yang juga hendak mengambil blanko, anggota Polantas Polce Adu menanggapi secar arogan dengan bahasa yang tidak etis. “Kau datang hanya bikin ribut saja goblok,” sebut Adrianus meniru ucapan oknum Polantas Polce Adu.

Tidak menerima perkataan itu, korban pun membalas ujarannya. “Pak, mohon lebih etis dalam berbahasa, sebetulnya kamu yang goblok,” tutur Adrianus.

Tidak menerima dengan perkataan Adrianus Oswin Goleng, Polce Cs  sekitar tujuh atau delapan orang bereaksi dengan melakukan kekerasan secara fisik dan verbal: memukul, intimidasi dan mengusir korban keluar dari kantor secara tidak manusiawi.

“Kita sudah menepuh jalur hukum sesui surat laporan. Kita minta Polda NTT melalui Propam untuk mengusut dan tindak tegas terduga oknum polisi Polce Adu, Cs,” ujar Adrianus kepada wartawan.

Menurut Adrianus, oknum pelaku itu diibaratkan hama yang mengancam keberlangsungan dan nama baik lembaga, untuk selamatkan “rumah” dan citra lembaga maka bukan tidak mungkin, hama ini harus dieliminir bahkan dimusnahkan. (M-01/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

 

Leave a Reply