Tak Ada APD, Perawat di Jogja Pakai Mantel Tangani Pasien Corona

0
47
Ilustrasi penanganan pasien positif Corona.

TIMORDAILY.COM, YOGYAKARTA-Kisah sedih dialami sejumlah perawat kesehatan di Gedongtengen,  Kota Yogyakarta dalam menangani pasien positif corona.

Para petugas medis ini,  harus mengenakan mantel, lantaran tak ada Alat Pelindung Diri (APD)  yang memadai.

Dilansir Harianjogja.com, sejumlah tenaga medis Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta merawa khawatir akan kondisi mereka. Pasalnya, pada 3 Maret 2020 mereka menangani satu pasien positif covid-19.

Meski sudah melakukan uji swab pada 14 Maret 2020 lalu di BBTKLPP DIY, hingga kini mereka belum juga mendapatkan hasilnya padahal mereka merasakan gejala sakit.

BACA JUGA : Kabar Duka! Uskup Ethiopia Tutup Usia karena Virus Corona

BACA JUGA : RSUD Atambua Belum Punya APD Standar untuk Tangani Pasien Corona

BACA JUGA : Polres Alor “Ciduk” Pelaku Penipuan Pembangunan Gereja di Alor dan Flores

“Tanggal 14 Maret semuanya mengeluh sakit. Ada yang radang tenggorokan dan sebagainya, ini seperti yang masuk gejala Covid-19. Lalu dilakukan tes swab. Namun sampai hari ini kami belum tahu hasilnya seperti apa karena belum disampaikan, katanya masih antre. Sampai hari ini ada dua tenaga kesehatan yakni dokter dan perawat yang masih kami rumahkan,” ungkap Kepala Puskesmas Gedongtengen, dr Tri Kusumo saat dihubungi, Kamis (26/03/2020) sore.

Menurut Tri, karena hasil lab belum keluar hingga 14 hari masa inkubasi berakhir, para tenaga kesehatan itu menjalani isolasi pribadi. Selama 14 hari hingga saat ini masih ada dua tenaga kesehatan yang belum kembali bekerja karena memiliki penyakit bawaan.

Di antaranya perawat yang punya penyakit diabetes, hipertensi dan jantung. Sedangkan tiga tenaga kesehatan yang sudah membaik lainnya saat ini sudah bekerja kembali.

Sebab puskesmas tersebut membutuhkan tenaga mereka. Saat ini mereka kekurangan orang, sementara pelayanan terus harus dilakukan.

Namun sayangnya para tenaga kesehatan tersebut mendapatkan stigma miring. Bahkan dari sesama tenaga kesehatan yang takut tertular.

BACA JUGA : Positif Corona Meningkat, Afrika Selatan Kunci Diri

BACA JUGA : Update Covid-19 di NTT Kamis 26 Maret 2020 – ODP Bertambah Jadi 254 Orang, 221 Karantina Mandiri

BACA JUGA : Cegah Covid-19, Rumah Perubahan Dokter Agus Taolin Gandeng Golkar, Nasdem dan Gerindra Semprot Desinfektan

“Contohnya saat minta ukur air, kami bayar mereka tak mau menerima uangnya langsung, minta diletakkan karena takut tertular katanya. Rasanya sedih sekali,” ceritanya.

Tri menambahkan, kekhawatiran mereka semakin bertambah karena minimnya Alat Pelindung Diri (ADP). Padahal mereka harus melakukan tracing pada pasien positif nomor 3 tersebut secara langsung pada 19 Maret lalu.

Akibatnya saat melakukan tracing, mereka hanya mengenakan mantel pribadi lantaran tak ada APD. Pelayanan kesehatan pun dilakukan dengan seadanya.

“Kami siap tidak ada pasien karena memang hasil lab teman-teman semua belum keluar. Kami juga tidak mau kalau ada pasien datang ditangani tim yang belum dapat kepastian hasil, nanti malah riskan semua,” imbuhnya.(HarianJogja/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply