Strategi Penurunan Stunting Melalui Pendekatan Multisektor dan Intervensi Terintegrasi

0
47

TIMORDAILY.COM,ATAMBUA-Penurunan stunting perlu dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak. Stunting mempengaruhi perkembangan otak sehingga kecerdasan anak tidak maksimal.

“Hal ini beresiko menurunkan produktivitas pada saat dewasa, lebih rentan terhadap penyakit,” ujar Wakil Bupati Belu, J. T Ose Luan dalam sambutannya sekaligus membuka pertemuan analisa situasi stunting tingkat Kabupaten Belu di hotel Nusantara, Atambua, wilayah perbatasan RI-RDTL, Rabu (5/2/2020).

Hadir dalam kegiatan kerjasama Dinas Kesehatan dan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Belu, Plh Sekda Belu, Kadis Kesehatan, Kepala BP4D, Kadis Peternakan, Kadis PMD, Kadis Pertanian, perwakilan NGO, para Kepala Puskesmas dan nara sumber dari Kementerian Kesehatan.

Menurut Ose, strategi penurunan stunting adalah pendekatan multisektor dan intervensi terintegrasi. Upaya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan diperlukan untuk mempercepat upaya menurunkan angka prevalensi stunting pada anak.

“Pendekatan multisektor untuk melakukan konvergensi program pencegahan stunting harus dilakukan di semua tingkatan sejalan dengan strategi nasional pencegahan stunting,” terang dia.

BACA JUGA : Waktu Pelaksanaan Proyek Jalan Dalam Kota Atambua Berakhir 2019, Kontraktor Masih Kerja Hingga Februari 2020

BACA JUGA : Ternak Babi Milik Warga Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL Mati, Begini Penjelasan Kadis Peternakan

BACA JUGA : Populasi Hama Ulat Serang Jagung Petani di Kabupaten Alor Menurun

BACA JUGA : Hadiri Fit and Proper Test SBS-WT di Partai Gerindra, Sejumlah ASN Malaka Dilaporkan Germas Prodem ke Bawaslu NTT

Pencegahan stunting sangat penting dilakukan. Pencegahan melalui dua intervensi yaitu,intervensi gizi spefisik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spefisik merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting.

Lanjut Mantan Sekda Belu itu, kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan. Intervensi ini juga bersifat jangka pendek dimana hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Sedangkan intervensi gizi sensitif adalah kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% intervensi stunting.

“Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 hari pertama kehidupan. Upaya percepatan pencegahan stunting akan lebih efektif bila intervensi gizi spesifik dan sensitif dilakukan secara konvergen,” ucap dia.

Dikatakan, pertemuan ini akan lebih difokuskan pada upaya percepatan pencegahan stunting. Sesuai hasil riset kesehatan dasar provinsi NTT, untuk Kabupaten Belu prevalensi stunting sebesar26,95% pada tahun 2018, dan pada tahun 2019 sebesar 21,23%.

“Penguatan regulasi guna cegah stunting juga dibutuhkan untuk tingkatkan koordinasi diantara sesama pemangku kepentingan terkait. Namun, tanpa koordinasi dan sinkronisasi kebijakan maka pelaksanaan program itu bisa menjadi kurang efektif,” tambah Ose.

Untuk diketahui, pertemuan analisa situasi stunting selama dua hingga Kamis (6/2) besok dibagi dalam empat kelompok kerja. Kelompok kerja pelayanan kesehatan diketuai Kadis Kesehatan, kelompok kerja ketersedian pangan yang diketuai Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan, kelompok kerja perlindungan pemberdayaan masyarakat diketuai Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, kelompok kerja peningkatan penyedian air bersih dan sanitasi diketuai Kadis Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (TIMORDAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Yan Bau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here