Senyum yang Tertinggal di Mandeu

0
374
Bukit Kakeu Mantenu, Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk. Foto : Anato Moreira

Suatu malam angin sepoi  menyelimuti tubuh, aku beranjak keluar kamar menuju kayu yang bertumbukan di depan kos. Kunyalakan sembari menikmati suasana malam yang telanjang dan awan putih bertaburan menutupi bintang-bintang. Malam itu tak seperti biasanya, musim dingin telah tiba.

Suara jangkrik, kodok seakan mereka sedang berpesta pora di keheningan malam. Secangkir kopi yang kuseduh sembari menyedot sebatang rokok surya dan berteman sepi di tengah gelap malam.

Kutengok ke sebelah kamar kos, lampu kamar kawanku telah padam. Mungkin ia sudah terlelap dan sedang bercinta dengan kesenduan malam. Teman seangkatan ini namanya Wiliam, tubuh kekarnya seperti seorang preman.

Setiap hari kami selalu bersama, bercerita tentang keindahan masa SMA, masa yang penuh dengan segala romantisme. Wajahnya seperti seorang penjahat dengan jenggot yang berserakan. Namun, ia adalah orang baik, selalu tersenyum menapaki liku-liku hidup, ramah dalam berbagi cerita.

Baca juga : Membakar Kuburan

Baca juga : Pilkada Belu dan Tangisan Tikus Berdasi

Malam semakin dewasa, tumpukan kayu telah habis dan gelap gulita di tengah kesepian. Beranjak menuju kamar. Suara Jangkrik, cicak, tokek bernyanyi ria dengan nada halus, kasar, seakan mereka sebagai penjaga malam.

Lagu nostalgia Leola Drakel yang berjudul Anggur Merah, dentuman nada membuat hayalanku terkapar jauh yang tak tahu ujungnya. Malam itu serasa badanku tercabik-cabik dengan irama musik dan lirik lagu si Anggur Merah. Malam semakin dingin, lagu-lagu nostalgia bergantian sebagai pengantar tidurku dan akhirnya aku terlelap bercinta dengan kesunyian malam.

Akhir Masa SMA 

Pagi itu, matahari memancarkan sinar dari ufuk timur menyinari jantung bumi, burung-burung bernyanyi riang di atas ranting-ranting pohon. Suara motor, mobil terdengar riuh di jalanan. Anak-anak berseragam rapi : merah putih, putih hijau hingga putih abu-abu berjejeran di pinggir jalan menuju sekolah. Pemuda-pemuda desa, orang tua memikul cangkul di bahu untuk beranjak menuju kebun.

Aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk persiapan menuju sekolah. Pukul 7 pagi, beranjak menuju sekolah mengikuti apel. Jarak sekolahku tak jauh di seberang dan berhadapan dengan tempat tinggalku. Pagi itu adalah hari selasa, apel pagi yang dipimpin oleh Kelapa Sekolah, orang yang bertubuh kekar dengan wajah yang tak pernah senyum.

Beliau dikenal orang yang jahat, setiap siswa yang melawan, tidak berpakaian rapi pasti akan dikenakan hukuman. Sontak apel pagi itu tak seorang pun yang ribut dan kami semua berdiri tegak, disiplin dalam barisan sembari mendengar arahan dari pimpinan.

Baca juga : Mimpi Pemuda Tapal Batas RI-RDTL, Jadikan Desa Silawan Penghasil Anggur

Seminggu lagi kelas XII SMA akan menghadapi ujian akhir sebagai penentuan masa berakhirnya putih abu-abu. Penegasan dari kepala Sekolah untuk kelas IX SMA, “jaga diri baik-baik, kurangi labuk jangan lupa belajar dan fokus untuk nasional, harapan untuk anak-anakku semua, jaga nama baik sekolah dan berikan yang terbaik.” Diakhir arahannya disambut tepuk tangan yang meriah para siswa.

Aku mulai membayangkan, masa SMA  akan berakhir, canda-tawa bersama teman-teman akan jadi kenangan yang tak pernah terulang lagi seperti nama yang terukir di bibir pantai dan terhapus oleh desiran ombak. Masa SMA adalah bagian dari sejarah kehidupan yang selalu dikenang. Baju dinas SMA, akan kutanggalkan seminggu lagi, rasa gembira, sedih, terharu seakan aku ingin kembali dari awal dan memulai kisah putih abu-abu. Lembaran sejarah masa remaja di bangku SMA akan jadi cerita.

Hari-hari kutinggalkan segala kesibukan dengan fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Hati bergetar dag dig dug, jantung berdebar kencang seakan rasa takut muncul menghadapi ujian hari senin nanti.

Baca juga : Destinasi Wisata Favorit di Alor, Surga Terselubung di Timur Indonesia

Sabtu sore itu, aku bersama teman Wiliam, Yohanes dan Ajitu berada di kosku, persiapan diri untuk menghadapi ujian. Suasana senja yang teduh, langit nan hijau dan angin sepoi-sepoi, temanku Wiliam membuka percakapan.

“Yohanes, bagaimana perasaanmu menghadapi ujian hari senin?”

“Ya, biasa sa e bro, aku senang. Selesai ujian kita bebas merdeka.” Pungkas Yohanes.

“Betul itu, tapi kita tidak seperti ini lagi, kita pasti akan berpisah, kebersamaan yang kita rajut di setiap sudut sekolah, jalanan, pesta dan sebotol sopi adalah tinggal kenangan.” Sambung Wiliam.

“Ya, betul e kawan, ayo kita cari sopi untuk minum sebelum berpisah nanti!” Ajitu bersuara dengan nada parau sambil memukul lengan Wiliam.

Senja itu, kami berempat bergegas menuju tempat pejualan sopi. Ajitu mengulum air liurnya menahan hasratnya untuk meneguk sopi. Sudah seminggu ini kami tidak berkumpul, melukis kisah dengan sebotol sopi seperti sebelum-sebelumnya.

Dunia terasa gelap, kadang terasa bersinar ketika ritual berhadapan dengan sebotol sopi selalu kami tunaikan. Begitulah budaya kami orang timor pada umumnya, yang turun-temurun entah berawal dari mana.

Lembayung makin layu, malam membuka mulutnya. Ada yang nyaris tertelan di sana tapi bukan pertemuan kami saat itu. Suasana beroceh makin lama makin panas bahkan cerita-cerita reme -temeh seperti berkelahi, mencuri pisang di kebun om Fanus, mencuri mangga di belakang sekolah, pohon asam di samping sekolah sebagai tempat berteduh saat tak ada guru.

Malam minggu itu, kami benar-benar terhayut dengan sebotol sopi dan bernostalgia tentang masa-masa kelam yang kian masih berkecimpung di kepala kami. Suara jangkrik, cicak dan dengung nyamuk serta nyala lampu yang keriput menghantar kami pada tidur yang panjang nafas alam berkisah sendiri.

Bukit Kakeu Mantenu

Tanda perpisahan, putih abu ditanggalkan, kami pun hilang menempuh impian masing-masing.

Lama tak jumpa dengan Paula, si gadis desa. Rindu semakin menggunung, batang hidung dan bibir tipisnya nampak dalam hayalan.

Tentang gadis desa, aku harus pulang menemuinya melepas rindu yang terpendam, wajah polosnya selalu menghampiri. Yah, mengenalnya saat ia beranjak remaja.

Sosok bidadari desa ini selalu tampil dengan kepolosan, anggun tanpa polesan. Paula selalu terlihat menawan di mata lelaki.

Mentari masih belia, aku beranjak menuju Kota menjemput Paula. Kala itu liburan natal dan tahun baru.

Muncul dari arah timur, ia tersipu malu, memendam rindu yang mengguita. Menuju kampung kecil itu, kami menelusuri jalan yang menanah, pohon-pohon menguning, cuaca tak bersahabat.

Baca juga :Air Terjun Ngabatata Nagekeo Ibarat Gadis Cantik yang Butuh Sentuhan

Membuka percakapan dengan bidadari itu, “lama tak jumpa, hanya memendam rasa rindu.” Wajahnya terlihat merah, mungkin ia malu dengan perjumpaan itu.

Senja kala itu, Bukit Kakae Mentenu jadi saksi bisu kisah dua sejoli yang tak pernah jumpa. Melepaskan rindu yang terpendam.

Kami melepas rindu yang terpendam. Pertemuan adalah obat untuk mengakhiri kerinduan sekaligus momentum kami mengikrarkan janji sehidup-semati. Suasana senja kala itu, membuat kami betul-betul hanyut dengan romantisme cinta yang dibalut dengan kerinduan.

“Nona, sudah sekian lama kita jalani kisah cinta ini, banyak pengelaman, pelajaran berharga yang kita dapat dan semua rintangan itu kita lewati hingga saat ini kita masih bersama di bukit yang tandus ini,” bisikku sembari mengecupnya.

“Selama ini memang banyak pelajaran yang kita dapat, rasa cinta padamu tak bisa dibendung lagi, aku ingin hidup bersamamu,” jawabnya dengan nada halus.

Senja itu, kami mengikrarkan janji untuk hidup bersama karena jarak bukan penghalang itu adalah tantangan untuk terus merajut kisah cinta yang telah berumur ini.

“Percayalah padaku, aku selalu menantimu. Diriku selalu untukmu,” ungkap gadis desa itu.

Tak seindah, kisah Romeo dan Juliet. Kisah cinta sederhana yang menemukan tuannya di atas bukit Kakeu Mantenu.

“Kita memang  akan berpisah nanti, tapi hati kita akan tetap menyatu,” jawabku sembari membelai rambutnya.

Kepercayaanku semakin menumpuk pada gadis itu, dirinya sosok yang dikirimkan untuk mewarnai hidupku. Wajahnya selalu terbayang, senyum manisnya, bibir tipis gadis desa itu selalu menghampiri tidur malamku.

Tiba saatnya kami berpisah, jarak bukan penghalang tetapi juga masalah. Cinta yang tumbuh dengan kesederhaan, itu tantangan.

Kisah semakin berumur, ia mulai sembunyi di balik kebohongan. Memang, racun! Kebohongan terus menggunung, ia terus mengurai kata-kata bijak, lagu-lagu nostalgia yang selalu dikirim melalui pesan WhatApps sembari menutupi semuanya.

Ibarat telur pecah yang ditutup rapi, akhirnya tercium baunya. Dan senyum gadis desa itu pergi entah ke mana?

Sosok ini bagai ditelan bumi dan kecupan kala itu adalah kecupan terakhir dan ia beranjak pergi.  Dan Kini, hanya senyumnya yang tertinggal di bukit Kakeu Mantenu.(TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Penulis : Gusti Arakat

Leave a Reply