Proyek Maek Bako Kabupaten Belu – Benih Dibeli Dengan Harga Berbeda Pada Tahun yang Sama

0
304
Proyek Maek Bako Kabupaten Belu - Harga Benih Dibeli Dengan Harga Berbeda Pada Tahun yang Sama
Kadis Pertanian Belu, Gerardus Mbulu bersama kabidnya memberikan penjelasan kepada wartawan, Senin (24/2/2020), foto by Marselino Soares/TIMORDAILY.COM

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Program pengadaan bibit porang (Maek Bako) oleh Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (PKP), Kabupaten Belu pada tahun 2017 dan 2018 sebanyak 59.796 kilogram (kg) dengan menelan anggaran dari APBD Belu hampir mencapai Rp 4 Miliar.

Jumlah ini dari total perencanaan pengadaan bibit maek bako sebanyak 71.698 Kg, namun ada pengembalian bibit sebanyak 11.902 Kg yakni di tahun 2017 pengembalian bibit sebanyak 902 Kg dan di tahun 2018 pengembalian 11.000 kg.

Pengadaan bibit maek bako oleh  Dinas Tanaman Pertanian dan Ketahanan Pangan, di tahun 2017 dan 2018 sebanyak 4 kali, yang mana 3 kali pengadaannya di tahun 2017 dan satu kali pengadaannya di tahun 2018.

BACA JUGA : Unit Tipikor Polres Belu Panggil PPK dan Kontraktor Proyek Pengadaan Maek Bako, Ada Apa?

BACA JUGA : Warga Berang dituduh Mencuri Maek Bako Milik Pemerintah di Hutan Jati Nenuk, Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL

BACA JUGA : Pernah Jadi Tim Kampanye Paket Sahabat, Anggota DPRD Belu ini Sebut Program Maek Bako Gagal

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Belu ini, dalam tiga kali pengadaan harga benih maek bako berbeda-beda, juga di tahun 2018 dan tahun 2019.

Untuk pengadaan pertama di tahun 2017 sebanyak 1.250 kg menelan anggaran Rp 154.125.000 atau harga satuannya Rp 123.300 perkilogram, pengadaan kedua di tahun yang sama sebanyak 2.500 kg dengan anggaran sebesar Rp 306.000.000 atau Rp 122.400 dan pengadaan ketiga di tahun yang sama sebanyak 18.448 kg dengan anggaran sebesar Rp 978.612.500 yang jika dibagikan per kilogram maka harganya hanya Rp 53.047.

Dari sini terlihat jelas bahwa harga benih maek bako mengalami penurunan drastis alias lebih murah di atas 50 persen.

Berikutnya pengadaan di tahun 2018 sebanyak 49.500 kilogram hanya dengan harga Rp 48.000 perkg dengan anggaran Rp 2,3 miliar rupiah.

“Jadi Bibit untuk Maek Bako pertama tahun 2017 itu, 1.250 Kg dengan anggaran Rp 154.125.000 yang kedua Rp 306.000.000 itu pengadaannya 2.500 kg bibit maek bako,dan kemudian yang ketiga 18.448 kg bibit anggarannya Rp 978.612.500. Kemudian disetor kembali 902 Kg itu anggarannya yang disetor kembali Rp 44.649.000,” ujar Kadis Pertanian Belu, Gerardus Mbulu, Senin (24/02/2020).

Selanjutnya di Tahun 2018 Ia mengatakan pengadaan bibit maek bako sebanyak 49.500 Kg dengan anggaran Rp 2.376.000.000 namun ada pengembalian uang sebesar Rp 528 juta.

Berikutnya untuk tahun 2019 ada alokasi anggaran sebesar Rp 124 juta untuk pengadaan maek bako namun tidak dijelaskan berapa banyak kilogram yang dibeli.

“Tahun 2018, 49.500 Kg di kontraknya tapi ada pengembalian 11.000 Kg, Rp 528 juta yang dikembalikan,” ungkapnya.

BACA JUGA : Bupati Belu Willy Lay Sudah Dua Kali Keluarkan Instruksi Terkait Kematian Ternak Babi

BACA JUGA : 570 Ekor Babi di Belu Perbatasan RI-RDTL Mati, Dinas Peternakan Belum Tahu Penyebabnya

BACA JUGA : GMNI Alor Demo Tolak Tambang Emas di Pantar Kabupaten Alor

Dan tahun 2019 Ia mengatakan pengadaan bibit umbi dengan menggunakan anggaran sebesar Rp 124.284.000.” di tahun 2019 ini kita ada pengadaan bibit umbi dengan anggaran sebesar Rp 124.284.000,” ujarnya.

Sehingga total bibit yang diadakan oleh Dinas PKP Kabupaten Belu sebanyak 59.796 Kg dan umbi sebanyak 35.714 kg dengan anggaran yang digunakan sebesar Rp 3.939.021.500

Lebih lanjut terkait maek Bako, ia mengatakan hitungannya bukan hektar melainkan kilogram, hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh bupati kepadanya.

“Bupati sudah bilang jangan pakai kata hektar pakai kilogram, hektar itu kan luas,” ucap Kadis memotong pembicaraaan Kabidnya.

Selain Kadis, Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Frida A Bria menambahkan,di tahun 2017 terdapat 150 hektar lahan Kelompok Tani (Poktan) dan Kelompok kerja Pokja) untuk penanaman bibit porang (Maek Bako)

“Di 2017 ada 150 Hektar dana APBD Murni 50 hektar, APBD perubahan 100 hektar, yang APBD murni 50 hektar tersebar di 5 kecamatan, itu kelompok tani Poktan karena dia di lahannya petani.”

“Sementara 100 hektar di perubahan, itulah 50 hektar di Atambua Barat dan 50 hektar di Atambua selatan, karena ini lahan kehutanan sehingga petani itu terlibat dalam kelompok kerja(Pokja)” Jelas Frida A.Bria yang merupakan mantan Kabid Perkebunan ini. (ino/TIMOR DAILY/TIMOR DAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply