Peluncuran Buku Sumbang Gagas untuk Negeriku, Wabup Belu Ose Luan Apresiasi Pena Batas RI-RDTL

0
97
Peluncuran Buku Sumbang Gagas untuk Negeriku, Wabup Belu Ose Luan Apresiasi Pena Batas RI-RDTL
Peluncuran Buku Sumbang Gagas untuk Negeriku di Aula Betelalenok Atambua, Jumat 31 Januari 2020

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Komunitas Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL berhasil membuat sebuah buku yang mengambil tema besar Sumbang Gagas untuk Negeriku.

Buku yang ditulis oleh 17 jurnalis anggota Pena Batas RI-RDTL merupakan kumpulan refleksi moral-kemanusiaan dan refleksi pembangunan ini resmi beredar yang ditandai dengan peluncuran pada Jumat (31/1/2020) pagi.

Acara peluncuran buku ini juga dirangkai dalam rangkaian kegiatan Natal dan Tahun Baru Bersama dan Pengukuhan Badan Pengurus Pena Batas Periode 2020-2022.

Wakil Bupati Belu, J.T Ose Luan dalam kesempatannya memberikan apresiasi kepada Persatuan Jurnalis Pena Batas RI-RDTL yang telah menghasilkan karya berupa buku dengan judul Sumbang Gagas Untuk Negeriku.

BACA JUGA : Lantik 9 Ketua TP PKK Kecamatan se-Kabupaten Belu. Ny. Vivi Lay : Jalankan Amanah Penuh Tanggung Jawab

BACA JUGA : Minta Tangani Hama Ulat Pakai Herbal, PMKRI Dapat Apresiasi Bupati Alor

BACA JUGA : Dampak Dasyat Tsunami Harun Masiku – Irjen Pol Ronny Sompie Korban Konflik Kepentingan Akut Yasona Laoly

Peluncuran Buku Sumbang Gagas untuk Negeriku, Wabup Belu Ose Luan Apresiasi Pena Batas RI-RDTL
Pengukuhan pengurus Pena Batas RI-RDTL Periode 2020-2022 oleh rohaniawan di Gedung Betelalenok Atambua, Jumat 31 Januari 2020

Wabup Ose Luan juga mengapresiasi kepada Pena Batas karena organisasi tersebut tetap eksis sampai dengan saat ini dan sudah memberikan sumbangsih dalam pembangunan di Kabupaten Belu.

Ose Luan mengungkapkan, wartawan sering disebut kuli tinta. Dengan tinta itu, mereka akan mewartakan kepada publik tentang banyak hal seperti pemerintahan, politik, pembangunan bahkan agama. Kemudian, pekerjaan wartawan itu mulia dan terhormat sehingga harus dihormati.

Wartawan, kata Ose Luan, adalah mitra yang baik dan mesti dirangkul, bukan dijauhi apalagi dianggap sebagai lawan.

“Wartawan itu mitra. Tidak boleh dijauhi dan dianggap lawan. Sebaiknya dirangkul dan bermitra secara baik,” tutur mantan Sekda Belu ini.

Lebih lanjut, Ose Luan mengingatkan bagi para pejabat birokrasi agar berjalan sama-sama dan membangun kemitraan yang baik dengan wartawan karena wartawan termasuk pelaku pembangunan.

Acara Natal dan Tahun Baru Bersama, Peluncuran Buku dan Pengukuhan Badan Pengurus Pena Batas Periode 2020-2022 diawali ibadat shabda yang dipimpin Romo Inocensius Nahak Berek, PR dan diakhiri dengan pembakaran lilin natal bersama.

Peluncuran Buku Sumbang Gagas untuk Negeriku, Wabup Belu Ose Luan Apresiasi Pena Batas RI-RDTL
Penyerahan bendera Pena batas RI-RDTL oleh mantan ketua, Fredrikus Royanto Bau kepada ketua baru Stefanus Dile Payong sebagai tanda beralihnya kepemimpinan komunitas tersebut

Dilanjutkan dengan peluncuran buku Sumbang Gagas Untuk Negeriku yang ditandai dengan pemukulan tihar (gendang kecil) oleh Wakil Bupati Belu, penasehat organisasi Pena Batas, rohaniwan, dan pelindung organisasi dalam hal ini Dansatgas Pamtas RI-RDTL.

Acara terakhir adalah pengukuhan Badan Pengurus Pena Batas Periode 2020-2022 oleh rohaniwan Katolik dan Protestan. Romo Ino Nahak bersama pendeta memberkati Ketua Pena Batas, Stefanus Dile Payong bersama kawan-kawan pengurus.

Kegiatan dihadiri Plh Sekda Belu, Marsel Mau Meta, Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur, Letkol (Inf) Ikhsanudin, Kapolres Belu, AKBP Cliffry Steiny Lapian, Kasdim 1605/Belu, Kabag Prokompim Setda Belu, Penasehat Pena Batas, Fredrikus R Bau dan Borgias Kolo, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), lurah, tokoh masyarakat, pimpinan LSM dan miss global NTT.

Persembahan Terbaik Jurnalis Pena Batas

Mantan Ketua Pena Batas RI-RDTL, Fredrikus Royanto Bau dalam sambutannya menyampaikan agenda peluncuran buku sumbang gagas untuk negeriku, yang merupakan persembahan terbaik dari seluruh anggota Pena Batas RI-RDTL.

Menurutnya, buku Sumbang Gagas untuk Negeriku yang dicetak oleh Gramedia Jakarta ini memiliki kisah tersendiri.

Bahwa setelah menyukseskan momentum deklarasi Komunitas Pena Batas RI-RDTL di Gedung Wanita Betelalenok pada 17 Juni 2017 lalu, dibentuklah panitia untuk kegiatan perdana yakni Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Lomba Graffiti dalam rangka Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017. Saat itu Berchmans Nahak sebagai sebagai Ketua Panitia dan Marsel Manek sebagai sekretaris panitia.

Kegiatan ini sukses terselenggara meski pengumuman baru dilakukan di Bulan November 2017. Usai kegiatan ini, terbesit mimpi untuk membuat sebuah buku namun impian itu hilang tanpa jejak.

Di tahun 2019, impian untuk membuat buku yang sempat terkubur hilang tanpa jejak kembali mencuat. Impian ini muncul kembali dengan daya dorong yang keras, bahkan sangat dasyat.

Dikomandoi Berchmans Nahak, lanjutnya, impian untuk membuat buku ini didorong dan mendapat sambutan pengurus dan anggota Pena Batas dengan menyumbangkan tulisan sebagai sebuah sari pati hasil liputan selama bertugas di Kabupaten Belu.

“Jadilah Buku Sumbang Gagas Untuk Negeriku. Sebuah kumpulan esai moral-kemanusiaan dan Refleksi Pembangunan Para Jurnalis Pena Batas RI-RDTL. Jadilah buku setebal 122 halaman dengan kemasan lux ditulis oleh 17 jurnalis anggota Pena Batas RI-RDTL dan 1 pastor yakni Romo Sixtus Bere,” ujarnya.

Diuraikannya, 17 Jurnalis yang menjadi penulis buku ini adalah, Yansen Bau, Frans Borgias Kolo, Mariano Parada, Teni Markadimus Jenahas, Richi Richardus Anyan, Febriany Leo Lede, Stefanus Dile Payong, Martinus Mau Loe Boimau, Andreas Yoseph Ola Witak, Yohanes Berchmans Nahak, Marselinus Manek, Jefri Adrianus Suni, Ronny Christianus Anyan, Margaretha Penu, Dhoru Vicente, Mutiara Christin Melanie Malehere.

Fredrikus menyebutkan, dengan penuh kebanggaan para pekerja pers di tepian negeri ini menunjukkan bahwa mereka tak hanya sekedar membuat berita tapi bisa menulis buku. Dia bahkan mengutip Sang pengarang, Pramoedya Ananta Toer pernah bilang melalui ungkapan yang melegenda dan menginspirasi yakni Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

“Para pekerja pers di komunitas Pena Batas RI-RDTL telah mengukuhkan diri mereka untuk tak sekedar bekerja untuk kemanusiaan melalui karya jurnalistik yang dihasilkan tapi telah bekerja untuk keabadian melalui buku yang diluncurkan hari ini,” pungkasnya. (yan/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here