Paulina Ditahan Karena Telantarkan Anak, Kasat Reskrim Polres Belu: Dia Pikir Anak Kucing?

0
171
Paulina Ditahan Karena Telantarkan Anak, Kasat Reskrim Polres Belu: Dia Pikir Anak Kucing?
Paulina saat dijenguk keluarganya di Sel Mapolres Belu

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Penyidik Polres Belu Perbatasan RI – RDTL menetapkan Paulina, Warga Desa Rafae, Kecamatan Raimanuk sebagai tersangka penelantaran anak hasil hubungan gelap dengan pria lain bukan suami sahnya.

Anak hasil hubungan gelap yang lahir prematur tersebut meninggal dunia pada usia lima hari.

Untuk mempertanggung jawabkan tindakannya tersebut, saat ini Paulina sudah mendekam di ruang tahanan Mapolres Belu sejak Kamis (6/2/2020).

Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Sepuh Ade Irsyam Siregar kepada TimorDaily.com lewat pesan Whatshapp, Jumat ( 6/3/2020) malam mengatakan, ada beberapa alasan mengapa Paulina dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penelantaran anak.

BACA JUGA : Anaknya Meninggal Saat Diasuh Saudara Suaminya, Paulina Malah Jadi Tersangka dan Ditahan Polisi

BACA JUGA : Proyek Maek Bako Kabupaten Belu – Pengadaan Tahun 2018, Ada Poktan Terima Bibit Rusak, Ada yang Belum Terima

BACA JUGA : Proyek Maek Bako Kabupaten Belu – 20 Poktan Disebut Ikut Menanam di Hutan Jati Nenuk Termasuk Poktan Pancing Mania

“Yang pertama, ibu paulina funan disalahkan karena dia punya anak lahir prematur hanya 6 bulan dan butuh perhatian lebih, malah dengan gampangnya mau dilempar ke panti asuhan,” ungkap AKP Sepuh.

“Yang kedua, Paulina sudah kasih anaknya ke orang lain, ada tidak perhatian dari dia untuk memastikan bahwa apakah anaknya baik – baik saja, itu sama sekali tidak ada.

Malah balik salahin orang lain, yang katanya dia tidak dikasih kabar keadaan anaknya, harusnya ambil dari sisi itu,” tambah AKP Sepuh.

Lebih Lanjut Kasat Sepuh mengatakan, Paulina mengira anak yang dikasih ke orang itu koondisinya sudah kuat, padahal lahir prematur.

“Jangankan prematur, yang normal saja baru lahir satu bulan masih lemah koq. Mana bisa seenaknya abis itu dikasih ke orang lain.  Di pikir itu anak kucing apa?” tukas AKP Sepuh.

“Besok, kalo banyak orang Atambua ini yang merasa bangga dengan hasil hubungan gelap, lalu bisa seenaknya saja kasih – kasih orang sebagai solusinya itu salah satunya berkaca dari pengetahuannya atas kasus ini. Lain kali mau berhubungan gelap sampai hamil, tenang aja. Tinggal kasih sama orang lain,” urai AKP Sepuh.

Titip Bayi di Angkot

Penelusuran TimorDaily dari berbagai sumber mendapatkan bahwa, pihak kepolisian menyelidiki kasus ini, setelah mendapat informasi dari pihak RSUD Atambua tentang kematian seorang bayi tanpa didampingi orang tuanya.

Dari informasi tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan menemukan identitas ibu kandung bayi tersebut berada di Desa Rafae, Kecamatan Raimanuk.

Polisi pun melakukan penjemputan terhadap Paulina Funan di Dusun Obor Desa Rafae, Kecamatan Raimanuk dan dibawa ke Polres Belu untuk dimintai keterangan.

Sesuai keterangan dari pelaku, bayi tersebut adalah anaknya yang lahir tanggal 12 Januari 2020 dalam perjalanan rujukan dari Kaputu menuju RSUPP Betun. Paulina sendiri tinggal di Kaputu (Kabupaten Malaka) di kampung suaminya.

Setelah dirawat di RSUPP Betun, Paulina bersama bayinya keluar dari rumah sakit dan tinggal di Desa Rafae, Kecamatan Raimanuk, kampung asalnya.

Lima hari setelah melahirkan, Paulina menitip bayi itu lewat sopir angkutan kota (angkot) Roby Bria untuk dibawa ke panti asuhan. Tetapi awalnya, sopir angkot membawa bayi itu ke rumah keluarganya di Atambua.

Karena kondisi bayi sakit, Roby Bria membawa lagi bayi tersebut ke RSUD Atambua untuk dirawat dan setelah dirawat beberapa hari, bayi tersebut meninggal dunia di RSUD Atambua, Kamis (6/2/2020), Atas tindakannya tersebut, Paulina harus mempertanggung jawabkannya di mata hukum.

Kesaksikan Paulina

Sebelumnya diberitakan media ini, Naas nasib Paulina (35) warga Desa Rafae, Kecamatan Raimanuk ini. Niatnya untuk menitipkan anak yang hasil hubungan gelap dengan pria idaman lain (pil) di Panti Asuhan Halilulik karena ditolak bertanggung jawab oleh suami sahnya di Malaysia, malah berbuntut pada dijebloskannya ke dalam tahanan Polres Belu.

Paulina Dituduh menelantarkan anaknya oleh pengasuh yang juga merupakan saudara dari suami sahnya. Kini Paulina telah menjadi tersangka dan harus menjalani masa penahanan di Sel Mapolres Belu.

Ketika disambangi TimorDaily.com di Sel Mapolres Belu, Kamis ( 5/3/2020 ) siang, Paulina mengatakan bahwa pihaknya sangat kecewa terhadap Robi Bria yang telah membuat berita bohong dan menjebloskannya ke dalam tahanan dengan tuduhan penelantaran anaknya.

BACA JUGA : TERBARU di Kabupaten Alor – Bocah Berusia 10 Tahun Dicabuli Ayah Tiri dan Siswi SMA Disetubuhi Pemuda

BACA JUGA : Penyidik Polres Alor Tetapkan Dua Tersangka Pembangunan USB Kayang

BACA JUGA : PMKRI Atambua Desak Kapolres Belu Pecat Anggota Pelaku Penganiayaan Warga Sipil

“Saya ini sangat kecewa sekali dengan Robi Bria, sebab anak saya ini saya mau titipkan di Panti Asuhan Halilulik, tapi mereka (Robi Bria, red) telepon saya dan janji mau adopsi anak saya itu sehingga anak itu saya kasih di dia. Eh setelah anak itu sudah ada di mereka selama 20 hari dan meninggal, lalu salahkan saya dan kasi masuk saya di sini (sel) karena terlantarkan anak saya. Ini tidak benar sekali,” urai Paulina dengan mimik wajah sedih.

Mengenai kronologi kejadiannya, Paulina mengisahkan bahwa dirinya dari Kaputu Wilayah Kabupaten Malaka hendak menitipkan anaknya di panti asuhan karena suaminya yang berada di Malaysia tidak menerima dan menjamin anak ini.

Sehingga dirinya datang ke panti asuhan di Halilulik  mengingat anak tersebut lahir prematur dan juga dirinya dalam keadaan ekonomi yang terbatas.

Malam harinya, kata Paulina, Robi Bria menelpon dirinya dan menyampaikan bahwa dia ingin merawat anak tersebut.

“Dia bilang kalau kakak (Paulina, red) mau biar kami yang rawat saja.  Dan dia meyakinkan saya dengan bahasa yang baik, jadi saya percaya dan kami sepakat untuk bertemu di Motamaro pada esok harinya,” ungkap Paulina.

Keesokan harinya (17/1/2020), Paulina memenuhi permintaan Robi untuk bertemu di Cabang Motamaro, Desa Bakus Tulama, Kecamatan Tasifeto Barat. Saat itu Paulina membawa bayinya dan Robi datang bersama kondektur mobil sekitar pukul 13.00 WITA.

“Waktu itu, saya bilang mau ikut, tapi dia bilang kakak tidak usah ikut sudah dan jangan kuatir dengan ini anak karena saya akan rawat dengan baik. Dan pada malam harinya, dia telepon bilang kaka paulina jangan takut karena, yang piara anak ini polisi yang dengan dia, jadi jangan kuatir. Terus saya bilang, ia baik sudah kalau begitu,” urainya.

Pada malam berikutnya, lanjut Paulina, kakak dari Robi ini menelpon dirinya untuk menyakinkan dirinya bahwa anak itu akan diasuh dan dianggap anak sendiri.

“Dia (Robi) punnya kaka telepon saya dan bilang, mama, anak ini sudah di tangan kami, dan kami anggap ini kami punk anak kandung sudah, jadi orang tua kandung tidak tahu apa – apa lagi. Terus saya bilang, yang penting dia sehat saya ikut senang,” ungkap Paulina.

“Tiap kali Robi telepon, saya tanya kabar bayi itu, Robi bilang aman saja dan dia ada sehat – sehat. Dan tiba – tiba bayi itu meninggal, dan mereka bilang saya terlantarkan anak saya dan pergi jemput saya di kampung (Desa Rafae) dengan polisi . Ini bagaimana?” sambung Paulina.

Paulina mengakui dia tidak pernah tahu kalau bayinya sedang menderita sakit karena setiap kali dirinya menanyakan, Robi selalu mengatakan bahwa anaknya sehat.

Dijelaskannya, Robi mengambil anak itu tanggal 17/1 /2020 dan 20 hari di mereka lalu tanggal 6/2/2020, anak itu meninggal dunia.

“Karena ini bayi bukan meninggal di tangan saya, tapi di tangan mereka. Trus, tiba – tiba bayi meninggal, lalu dong datang ke saya ambil saya dengan polisi dan katakan saya yang terlantarkan. Yang terlantarkan anak itu saya atau dia (robi dan kakaknya)?” ujarnya bertanya.

Lebih lanjut Paulina mengatakan bahwa saat dirinya dijemput oleh polisi pada tanggal 6/2/2020, katanya mau ambil darah untuk cocokkan dengan bayinya akan tetapi saat datang juga dirinya tidak sempat melihat anak itu dan tidak mengetahui tempat kuburan anaknya.

“Jadi, saya mohon keadilan itu tolong ditegakkan. Saya tidak terima sekali dengan ini. Masa Robi dengan kakaknya yang sudah asuh anak itu, dan meninggal di tangan mereka dan mereka tidak bertanggung jawab, malah saya yang disalahkan dan masuk lagi dalam sel sini,” tutup Paulina dengan nada kecewa.

Kasat Reskrim Polres Belu AKP Sepuh Ade Irsyam tidak berada ditempat ketika hendak dikonfirmasi tentang kasus ini. (ito/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply