Obsesi Alvons Gorang, Sang Rektor di Batas Negara

0
55
Obsesi Alvons Gorang, Sang Rektor di Batas Negara
Alvons Gorang ketika dilantik menjadi Rektor Untrib Kalabahi untuk periode kedua.

TIMORDAILY.COM, ALOR-Wajahnya bersahaja dan penampilannya sederhana. Bicaranya to the point dan terukur. Setiap biji perkataan yang terungkap dari bibirnya penuh makna. Semakin lama berdiskusi dengannya, semakin menarik untuk disimak. Pikiran cerdas dan bernas penuh nilai keintelektualan mewarnai setiap penjelasannya.

Dia adalah Alvons Gorang. Menyandang gelar Magister dari Universitas Dr.Soetomo Surabaya, saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Tribuana (Untrib) Kalabahi, di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Alor adalah kabupaten yang terletak di batas negara antara Indonesia dan negara Republik Timor Leste. Ditangan akademisi muda ini biduk Universitas Tribuana terus berbenah dan melaju.

Siang itu, di akhir bulan Juni 2020 di Ruang Kerjanya di Kantor Rektorat Untrib, Sang Rektor enerjik kelahiran 15 Agustus 1978 ini mengungkapkan tentang obsesinya kepada TimorDaily.Com dalam periode kedua ia terpilih kembali memimpin Universitas tersebut.

Mengawali perbincangan ringannya Ia mengkisahkan perjalanan kariernya sebelum ia di dapuk untuk menduduki kursi rektor. Untrib yang dipimpinnya tersebut bukan “rumah baru” baginya. Ia telah bergabung dengan Universitas ini sejak tahun 2003 saat universitas tersebut masih bernama Universitas Kristen Tribuana (UKT). Kala itu rektornya dijabat Dina Takalapeta Meller, S.Th. Di masa itu ia baru kembali dari Kupang setelah menjalani kuliah strata satu (S1) di Fisip Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tahun 1997-2001.

Alfons yang telah berpengalaman dalam tugas sebagai akademisi di lembaga pendidikan tinggi tersebut, dirinya diberikan kepercayaan mengemban jabatan sebagai Dekan Fakultas Ekonomi pada periode 2007-2011 saat Perguruan Tinggi tersebut sudah bernama Untrib. Pasca tugas tahun 2011 itu, suami dari Pdt. Hepy Nenotek, S.Th dan ayah dari dua orang anak ini melanjutkan studi magister (S2) di Universitas Dr. Soetomo Surabaya, hingga berhasil menyelesaikan di tahun 2013.

Di tahun yang sama ini, Alvons kembali ke Alor untuk melanjutkan pengabdiannya di Untrib. Alvons yang telah memiliki pengalaman dan kapabilitas intelektual yang cakap ini diberikan tanggungjawab besar untuk menjalankan tugas sebagai Wakil Rektor (Warek) I. Sebuah jabatan strategis, hingga mengantarnya menjadi Rektor dalam pemilihan di tahun 2016 menggantikan Rektor sebelumnya, Fredik Kande.

Alvons dalam amanahnya sebagai Rektor, selain benar-benar mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, juga melaksananakan sejumlah agenda program penting dengan melanjutkan program yang dilaksanakan Rektor sebelumnya yang berkaitan dengan pengembangan tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) untuk memenuhi standart minimun.

Obsesi Alvons Gorang, Sang Rektor di Batas Negara
Alvons Gorang ketika dilantik menjadi Rektor Untrib Kalabahi untuk periode kedua.

Tindakan kongkrit yang dilakukan, yakni tenaga pengajar di PT tersebut yang belum S2 dan S3 di dorong untuk melanjutkan untuk menuju Untrib mandiri dalam SDM.

Tentu untuk menyekolahkan dosen ke jenjang yang lebih tinggi ini membutuhkan pembiayaan yang besar, dan lantas bagaimana dengan anggarannya?

Untuk hal anggaran ini dalam upaya menginvestasikan SDM ini tersebut, Alvons mengakui Kampus dan Yayasan memiliki keterbatasan. Namun hal itu bukan halangan. Menurut Alvons, pihak Universitas dan Yayasan mencari solusi dengan membangun jaringan berkaitan dengan peluang beasiswa guna membiayai tenaga pengajar Untrib untuk melanjutkan studi.

Alhasil usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Saat ini, ungkap Alvons, dari 71 Orang Tenaga Dosen, sebagian besarnya berjenjang S2, dan 3 orangnya studi Doktor, yakni satunya telah selesai dan duanya masih tengah menjalani studi.

Dengan kualitas pendidikan Magister dan Doktor tersebut menjadi modal ke depan untuk menghasilkan mahasiswa Untrib yang jumlahnya saat ini sekitar 2.400 Mahasiswa yang tengah belajar di lima Fakultas (Pertanian, MIPA, Hukum, FKIP, dan Ekonomi) dan 11 program studi guna menjadi mahasiswa yang handal dalam penguasaan ilmu dan tekhnologi.
Alvons menargetkan di tahun 2025, Untrib telah memiliki 11 Doktor atau setidaknya sudah kandidat Doktor.

Selain terus mendorong peningkatan SDM, kata Alvons, Untrib juga tengah berbenah dalam membangun infrastruktur Kampus yang memadai untuk menciptakan atmosfir kampus yang mendukung aktivitas kampus, dari “wajah” yang sebelumnya biasa saja. Kini secara perlahan-lahan “wajah” kampus mulai berubah. Sarana dan prasarana kampus untuk mendukung kegiatan perkualihan juga dilengkapi secara bertahap menuju sapras yang representative, misalnya perpustakaan, laboratorium, dan kantor.

“Intinya begini, sekarang kita mulai dengan penataan SDM, ciptakan sistem kerja profesional, menyiapkan sapras yang representative, dan membangun jaringan kerjasama dengan berbagai pihak. Semua ini demi membawa Untrib menjadi Universitas Unggul dan melahirkan generasi yang memiliki daya saing,” ungkap Alvons.

Sembari terus melakukan terobosan yang telah disebutkan tersebut, Alvons juga menandaskan hal penting lainnya yang dilakukannya adalah memperhatikan kesejahteraan Dosen dan Pegawai sesuai kondisi keuangan yang ada. Untuk Dosen dinilai melalui DP3 dan alat renumerasi. Dosen non struktural, dalam 1 tahun harus memiliki 2 penelitian. Sedangkan dosen struktural termasuk rektor dan warek dalam 1 tahun memiliki 1 penelitian.

“Untuk renumerasi bisa diatur sesuai besaran yang ditetapkan. Sementara DP3 yang dicek adalah penelitian, buku ajar, opini, dan menjadi pembicara dalam pertemuan ilmiah,” jelas Alvons.

Alumni Untrib Memiliki Nilai Plus

Mimpi besar Sang rektor Alvons Gorang terhadap eksistensi Untrib sebagai kampus yang letaknya di batas negara ini bukan hanya untuk hari ini saja atau semasa jabatannya sebagai rektor saja, tetapi untuk perjalanan Untrib ke depan, terutama bagi out put Untrib atau Tamatan atau Alumni Universitas tersebut.

Alvons berobsesi semua mahasiswa tamatan atau Alumni Untrib ke depan bisa memiliki SDM yang unggul dan handal untuk siap bersaing disemua bidang kehidupan. Guna menjawab tantangan tersebut, maka mulai tahun akademik yang baru ini, mata kuliah bahasa Inggris akan menjadi mata kuliah wajib di seluruh program pendidikan.

Hal ini agar mahasiswa setelah menjadi sarjana, selain menguasai ilmu dibidangnya, namun juga bisa berbahasa inggris untuk menjawab tuntutan kebutuhan hidup saat ini.

“Saya berharap setidaknya semua Alumni Untrib ke depan bisa berbahasa inggris meski pasif. Ini penting sekali karena bahasa inggris menjadi tuntutan kebutuhan dunia kerja saat ini. Oleh karena itu, saatnya sekarang kita siapkan semua mahasiswa dengan mata kuliah bahasa inggris menjadi wajib,” jelas Alvons.

Obsesi lainnya yang disiapkan manajemen Untrib bagi mahasiswa untuk menjawab dunia kerja ke depan dengan sejumlah ketrampilan lainnya yang ilmunya bisa didapatkan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) yang disiapkan kampus.

Menurut Alvons, BLK di Untrib saat ini akan dimulainya dengan pelatihan yang berkaitan dengan pelatihan tentang recepsionis.

Lebih dari itu, dalam perencanaan ke depan juga akan di buka BLK berkaitan dengan pelatihan automotif. Tentu untuk BLK ini akan dibangun kerjasama dengan berbagai pihak.

Menurut Alvons, intinya Untrib kedepan bisa memberikan nilai plus bagi masyarakat, daerah dan bangsa ini untuk menuju cita-cita kesejahteraan bersama.

Mensiasati Cara Kuliah di Masa Covid

Sejak pandemi Covid-19 melanda belahan dunia ini, termasuk negara kita Indonesia, segala aturan dalam semua segi kehidupan menyesuaikan terhadap kondisi yang ada termasuk dunia pendidikan tinggi.

Untrib sebagai salah satu Perguruan Tinggi dalam menjalankan aktivitasnya juga melakukan adaptasi terhadap pandemi Covid-19. Sejak awal Untrib telah melakukan upaya pencegahan dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran atau arahan pemerintah.

Berkaitan dengan hal ini Rektor Alvons mengungkapkan, dalam masa pandemi Covid-19 aktivitas kampus tetap berjalan, namun cara dalam beraktivitasnya disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dosen dan pegawai tetap masuk kantor, dan metode perkualihannya, Dosen mengajar dari kampus dan mahasiswa mengikuti kuliahnya dari rumah atau kostnya.

Alvons mengakui, sistem perkualiahan seperti itu tidak berjalan efektif akibat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain masalah jaringan internet, dan juga ada mahasiswa yang kesulitan karena masalah ketiadaan teknologi.

Sehingga ketika Pemerintah menetapkan new normal, tandas Alvons, pihaknya langsung maksimalkan selama 4 minggu untuk menuntaskan perkuliahan yang tidak efektif di kampus, dan telah menyiapkan sejumlah metode atau strategi perkualihan dalam memasuki semester yang akan dimulai ini.

Untuk metode perkualihan semester ini dalam masa new normal, maka Untrib akan menggelar kuliah di halaman kampus. Semua mahasiswa bisa mengakses bahan kuliah melalui jaringan internet yang disiapkan kampus.

“Tanggal 20 sampai 30 Juli 2020 ada pendataan, sosialisasi dan pembuatan akun e-kampus. Untuk moment ini akan di data mahasiswa yang memiliki HP android dan yang tidak memiliki. Mereka yang tidak memiliki akan disiapkan bahan ajar yang bisa mereka pelajari,” jelas Alvons.

Lebih dari itu, ketika menyinggung soal penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ajaran saat ini, Alfons menjelaskan, target penerimaan tahun ini juga disesuaikan dengan kondisi Covid-19. Target yang ditetapkan panitia penerimaan sebanyak 550 calon mahasiswa yang akan diterima. Jumlah ini sedikit dibawah dari target tahun lalu di masa normal, yakni 600 mahasiswa.

Kendati demikian, kata Alvons, dari trend yang diamati minat masyarakat yang akan kuliah di Untrib cukup tinggi, sehingga di prediksi bisa mencapai 600 calon mahasiswa.

Pasalnya, jelas Alvons, dalam proses pelaksanaan penerimaan untuk saat ini telah berlangsung hingga tahap atau gelombang kedua, dengan jumlah calon mahasiswa hampir mencapai 500 orang, dan masih ada lagi gelombang ketiga dalam penerimaan.

Berkaitan dengan penerimaan ini, lanjut Alvons, ada sejumlah kebijakan yang ditempuh untuk membantu anak tamatan SMA yang punya prestasi bagus, tetapi tidak mampu. Bagi mereka ini, telah disiapkan beasiswa Dikti untuk 100 orang, dengan syarat calon mahasiswa adalah benar-benar orangtuanya tidak mampu dan merupakan pemilik kartu KIP. Mereka ini selain tidak mampu juga adalah calon mahasiswa yang dalam seleksinya memperoleh rangking 5 terbaik di program studi masing-masing.

Dialokasikan untuk segmen ini sebanyak 55 calon mahasiswa. Kebijakan berikutnya yang diambil dalam penerimaan mahasiswa baru ini, yakni pihak Universitas membangun koordinasi dengan 24 SMA di Kabupaten Alor untuk merekomendasikan siswanya yang telah tamat tetapi memiliki potensi, namun tidak mampu untuk kuliah.

Rekomendasi ini akan diteliti untuk diterima. Selain itu juga pihak Universitas menyediakan kepada Gereja melalui Klasis , terutama Klasis di pedalaman apabila mengetahui ada anak tamatan SMA yang memiliki kemampuan baik, namun tidak mampu dapat direkomendasikan.
Bagi mereka ini, tegas Alvons, untuk SMA dialokasikan 24 orang, dan untuk Klasis sebanyak 20 orang.

“Semua masyarakat baik yang mampu dan tidak memiliki hak yang sama untuk mengecap pendidikan tinggi. Untrib membuka ruang ini sebesar-besarnya sebagai upaya untuk membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan anak bangsa dan membangun keadilan sosial. Kita siapkan generasi anak bangsa ini dengan modal pendidikan yang cakap untuk pembangunan,” ungkap Alvons, sambil menambahkan Alumni Untrib dari batas negara siap berbakti untuk negeri.(osm/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat