Kawasan Himalaya Memanas, Tentara China dan India Saling Serang Pakai Batu

0
47

TIMORDAILY.COM, LADAKH-Tentara India dan China saling serang menggunakan batu di kawasan pegunungan Himalaya sejak selalu lalu.

Konflik di daerah perbatasan ini dikabarkan telah memakan korban 20 orang yang dilaporkan tewas. Dalam catatan sejarah, kedua negara ini telah terlibat konflik sejak dahulu, tahun 1967.

Namun, aksi saling serang ini dinilai merupakan hal yang sangat fatal.

Melansir Kompas.com, China dan India sebenarnya sama-sama memiliki senjata nuklir dan sudah lama keduanya terlibat sengketa soal dimana tepatnya garis perbatasan kedua negara di pegunungan Himalaya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ladakh, lokasi konflik terjadi berada di kawasan Kashmir, daerah yang menjadi rebutan sejak pemisahan kawasan India di tahun 1947 oleh Inggris dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Partition”.

Ada tiga negara penguasa wilayah ini dan semuanya diketahui memiliki senjata nuklir: India, China dan Pakistan. India dan Pakistan sudah berulang kali terlibat konflik berkenaan dengan Kashmir.

BACA JUGA : Massa Aksi Geruduk Gedung Putih, China Kritik Rasisme di Negeri Paman Sam

BACA JUGA : Hong Kong Bakal Jadi Pemicu “Perang” Amerika Serikat dan China

BACA JUGA : Berlakukan UU Keamanan Nasional di Hong Kong, AS Kutuk China

Namun terakhir China dan India terlibat konflik di wilayah ini adalah sekitar 60 tahun lalu, yang diakhiri dengan gencatan senjata di tahun 1962. Tidak ada batas jelas yang disepakati oleh kedua negara di sepanjang pegunungan Himalaya tersebut, hanya ada kesepakatan tidak mengikat mengenai perbatasan sepanjang 3.380 km yang dikenal dengan nama Garis Kontrol Aktual (LAC).

Pembicaraan kedua negara selama 30 tahun gagal mencapai kesepakatan mengenai garis perbatasan, malah timbul rasa saling curiga yang kadang menyebabkan bentrokan. Associate Profesor Jian Zhang, pakar kebijakan China di UNSW Canberra mengatakan kepada ABC bahwa konflik tersebut “sudah mencapai tahap serius”.

Mengapa menggunakan batu, bukannya senjata?

Pada 1996, India dan China menandatangani perjanjian damai LAC, yang menyebutkan “kedua belah pihak tidak akan menggunakan kekuatan miiliter” dalam konflik perbatasan.

Sesuai dengan kesepakatan, para pakar mengatakan tentara dari kedua negara kemudian menggunakan senjata lain termasuk tangan, batu, kayu yang dipasang paku atau kawat berduri.

Dalam bentrokan yang terjadi hari Selasa, militer India mengatakan 20 tentaranya tewas dan 17 mengalami luka berat.

“Mereka menyerang dengan batangan besi, perwira komandan mengalami cedera serius dan jatuh, dan ketika terjadi, lebih banyak tentara tiba di lokasi kejadian dan diserang dengan batu,” kata sumber pemerintah India kepada Reuters.

Dr Zhang mengatakan penggunaan senjata non-militer menggambarkan keinginan kedua pihak guna “menghindari kemungkinan situasi di sana berkembang menjadi konflik militer”.

Walau pejabat China tidak menjelaskan apakah ada korban di pihak mereka, editor tabloid milik pemerintah The Global Times lewat Twitter-nya mengatakan tentara mereka juga tewas dalam bentrokan tersebut.

Mengapa mereka terlibat bentrokan?

Pada dasarnya, kawasan di sepanjang LAC masih dianggap sebagai bagian dari masing-masing negara India dan China. Tidak ada tanda perbatasan yang jelas dan dengan adanya sungai, danau dan pengununggan membuat garis perbatasan bisa berubah.

Pakar mengenai China, Srikanth Kondapalli, profesor di Jawaharlal Nehru University di New Delhi mengatakan kepada ABC jika China dan India masing-masing memiliki pendapatnya sendiri mengenai garis perbatasan.

“Karena memang garis LAC yang tidak jelas, maka masalah timbul mengenai perlintasan perbatasan,” katanya.

Profesor Kondapalli menerangkan, dengan jumlah pelanggaran yang terus meningkat menunjukkan kedua pihak ingin menguasai sebanyak mungkin wilayah.

“Semua ingin menguasai dan situasi ini belum terselesaikan dan itulah yang terjadi sekarang,” kata dia.

Apa yang menyebabkan bentrokan terbaru?

Guna memperkuat kehadiran militer dalam beberapa tahun terakhir, kedua belah pihak mulai membangun infrastruktur di daerah perbatasan. China dan India terlibat dalam ketegangan militer di tahun 2017, ketika India menuduh China membangun jalan di kawasan yang disengketakan.

Namun kali ini keadaannya terbalik. India menyelesaikan pembangunan jalan ke sebuah landasan udara di Galwan Oktober lalu dan keputusan New Delhi membangun infrastruktur di kawasan itu membuat Beijing marah.

Pembangunan jalan tersebut dalam pandangan Beijing bisa memperkuat kemampuan militer India bila terjadi konflik. Awal Mei, ratusan tentara saling berhadapan di tiga lokasi dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.

“Menurut sumber India, bentrokan dimulai dalam pertemuan yang dihadiri oleh tentara kedua belah pihak yang bertemu untuk mencari upaya mengurangi ketegangan,” kata Meera Ashar, direktur Institut Penelitian Asia Selatan di Australian National University kepada ABC.

BACA JUGA : Donald Trump Ancam Gunakan Kekuatan Militer Hentikan Kerusuhan di Amerika Serikat

BACA JUGA : Resmi! Hubungan Amerika Serikat dan WHO Berakhir

BACA JUGA : Masker Unik  Mendagri  Tito Karnavian Saat Kunker di Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL

“Dalam pernyataan yang dikeluarkan pejabat China, mereka menuduh bentrokan terjadi karena militer India melewat garis perbatasan LAC.”

“Kedua pernyataan ini ada benarnya. Tentara India melewati garis perbatasan guna menghadiri pembicaraan yang berakhir tidak sesuai perkiraan,” jelas Ashar.

Bagaimana keadaan medan konflik saat ini?

Militer India mengatakan tentara mereka berada di kawasan pegunungan tinggi dengan suhu di bawah nol derajat Celcius.

“Konflik terjadi di Lembah Galwan,” kata Dr Zhang.

“Kawasan ini tidak cocok untuk dihuni manusia dalam jangka panjang, namun karena adanya pembangunan ekonomi dari kedua pihak dalam beberapa tahun terakhir, berbagai fasilitas mulai dibangun. “Jadi bisa dikatakan kedua belah pihak sekarang memiliki kapasitas yang lebih besar dan berniat membangun berbagai infrastruktur lagi di sana.”

Dr Zhang mengatakan kedua negara China dan India harus mencapai pemahaman yang sama, selain menghentikan semua kegiatan yang bisa dilihat sebagai usaha mengubah keadaan sekarang di daerah perbatasan, termasuk pembangunan infrastruktur.

“Karena kawasan perbatasan di garis LAC tidak jelas, kemungkinan lain untuk dipertimbangkan adalah membuat daerah penyangga, sekitar 10 kilometer dari masing-masing garis perbatasan dan personel militer tidak bisa terlibat,” katanya.(Kompas/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat