Kadis Peternakan dan Kesehatan Sebut 2.000 Ekor Babi di Kabupaten Belu Mati Terserang ASF

0
55
Kadis Peternakan dan Kesehatan Sebut 2.000 Ekor Babi di Kabupaten Belu Mati Terserang ASF
Rakor Penanggulangan penyakit ASF di Gedung Wanita Betelalenok, Rabu (11/03/2020).

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Ternak Babi yang mati di Kabupaten Belu wilayah Perbatasan RI-RDTL hingga saat ini telah bertambah mencapai 2000 an Ekor. Babi yang meninggal terserang oleh virus African swine fever (ASF).

“Dari januari hingga februari dari data yang kami peroleh itu ada 757 ekor itu laporan dari januari hingga februari,” ujar Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu K. Birri Saat memberikan laporan dalam Rakor Penanggulangan penyakit ASF di Gedung Wanita Betelalenok rabu (11/03/2020).

Selain yang telah didata oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Kabupaten Belu Birri mengatakan,hingga saat ini banyak laporan dari masyarkat yang belum sempat di periksa yang mana jumlahnya diperkirakan mencapai Ribuan ekor.

BACA JUGA : Ratusan Mahasiswa Undana Kupang “Serbu” 21 Desa di Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL

BACA JUGA : Kasus Bawang Merah Malaka – Herman Hery Minta Penyidik Polda NTT Telusuri Aliran Dana dan Seret Siapapun yang Terlibat

BACA JUGA : 570 Ekor Babi di Belu Perbatasan RI-RDTL Mati, Dinas Peternakan Belum Tahu Penyebabnya

“Tetapi Laporan masyarkat yang belum kami periksa sudah sekitar 2000-an lebih” Kata Birri.

Hadir sebagai pemateri dalam Rakor penanganggulangan penyakit ASF ini, drh. Fadjar Sumping Tjaturasa, Phd, (Dirkeswan Kementan RI), drh. Masa Tanaya Phd (Kepala BBVet Bali) dan Wempi Bate, S.TP (Kabid Keswan Provinsi NTT).

Sebelumnya diberitakan Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Belu, hingga Senin (24/2/2020), jumlah babi yang mati mencapai 570 ekor.

“Sesuai pendataan oleh petugas kami di lapangan jumlah yang mati 570 ekor,” ungkap Kepala Dinas PKH Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu K. Birri saat dihubungi Senin (24/02/2020).

Data 570 ekor babi mati yang sudah terdata ini, lanjutnya, belum termasuk yang belum dilaporkan atau yang sudah dipotong.

Lebih lanjut Nikolaus menyebutkan, meski sudah ratusan ekor babi yang mati, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebabnya karena masih harus menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel yang telah dikirim ke pusat.

“Hasil lab belum diinfokan dari pusat kepada kami lewat propinsi,” ujar Nikolaus.

Saat ini untuk melakukan tindakan penyelamatan terhadap babi-babi yang masih hidup, kata dia, Bupati Belu telah mengeluarkan dua kali instruksi tentang larangan-larangan keluar masuk babi di Kabupaten Belu dan pembersihan kandang babi.

“Fokus kami sekarang pada penyelamatan ternak babi yang masih sehat,” tulisnya.

Untuk diketahui sebelumnya, Kepala Dinas PKH Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu K. Birri kepada media ini mengatakan, kasus kematian babi di wilayah Kabupaten Belu Karena terserang kolera atau yang biasa dikenal demam babi.

“Gejala yang kita lihat di lapangan kematian babi ini lebih mengarah pada kolera atau Demam Babi yang biasa,” jelasnya saat ditanyai TIMORDAILY.COM di Atambua Selasa (4/2/2020).

Meski demikian, Kadis Nikolaus mengatakan, untuk lebih memastikan virus yang menyebabkan kematian ternak babi di Kabupaten Belu pihaknya telah mengirimkan sampel untuk diperiksa di Balai Besar Veteriner di Bali.

“Kemarin Kita sudah kirim 20  sampel  darah ke Balai Besar Veteriner di Bali untuk memastikan ada virus atau tidak,” ujarnya. (Ino/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply