Jadi Guru Agama di Papua, Pemuda Asal Kefamenanu Rela Dengan Warga Tidur di Hutan

0
14753
Jadi Guru Agama di Papua, Pemuda Asal Kefamenanu Rela Tidur di Hutan

TIMORDAILY.COM, YOGYAKARTA-Gody Usnaat, pemuda asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi salah satu guru Agama di pedalaman Papua.

Kepada TIMORDAILY.COM, Jumat (13/12/2019), Gody yang sedang mengikuti kegiatan di Kota Yogyakarta mengatakan, pertama dirinya memilih daerah Jawa untuk melanjutkan sekolah. Namun, kondisi ekonomi yang memaksa akhirnya ia memilih untuk mengabdi di Papua sebagai Guru Agama Katolik dan Guru SD YPPI Akar Indah Semografi pada tahun 2014.

Menurut Gody, mengabdi di Papua sebagai sebuah keberuntungan. Pasalnya, impian untuk melanjutkan pendidikan di Kota Gudeg tidak berjalan mulus, ia dihubungi bahwa ada pekerjaan di Keuskupan Jayapura sebagai Katekis.

Baca juga : Guru Asal NTT di Pedalaman Papua Bertemu Mendikbud Nadiem Makarim 

Baca juga : Guru Asal NTT Mengajar di Pedalaman Papua, Begini Kisahnya

Baca juga : Mahasiswa Amungme dan Kamoro Papua Jalin Kerjasama Dengan PT. Freeport Indonesia

“Saya kebetulan terdesak dengan tuntutan ekonomi, yah sudah saya menerima tawaran itu,” ujar Gody.

Gody Usnaat, pemuda Kefamenanu bersama masyarakat Semografi tidur di hutan. Dok. Istimewa

Gody menceritakan, kisah pertama menginjakkan kaki di bumi Papua, dirinya diselimuti rasa heran dengan kondisi yang jauh berbeda dengan tanah Jawa.

“Saya dari Kota Surabaya yang hiruk-pikuk, tiba-tiba sampai di sana dengan situasi yang begitu sunyi. Malam kita hanya dengar suara kodok, jangkrik, terasa lain sekali,” pungkas Gody.

Baca juga : Aksi Demo Mahasiswa Papua Bawa Bendera Bintang Kejora di Depan Istana Presiden RI Bukan Pelanggaran Hukum

Menurutnya, sesampai di Pusat Paroki St. Bonafasius Ubrub, ia dijemput oleh warga Papua dan berjalan kaki selama 6 jam ke tempat tugas, Kampung Semografi. Lanjut Gody, pesan Pastor paroki kepada dirinya, jika tidak betah dengan lokasi tersebut, silakan kembali untuk mengabdi di pusat paroki.

Namun, dengan pertimbangan jarak tempuh selama 6 jam, akhirnya ia bertekad untuk tetap mengabdi, melayani umat dan mengajar di Kampung Semografi.

Baca juga : Pemuda Asal Belu Lebih Memilih Kerja di Jakarta, Ternyata Ini Alasannya

Lanjut Gody, mengabdi di Kampung Semografi, ia harus membuka diri, jalin komunikasi dengan masyarakat hingga tidur di setiap hutan untuk mendekatkan diri dan menjadi orang Papua yang sesungguhnya.

“Saya dengan masyarakat tidur di hutan, kita bakar-bakar daging sambil cerita-cerita,” jelas Gody.(gus/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply