Festival Foho Rai 2019 “Lahirkan” Museum Budaya Pertama di Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL

0
253
Festival Foho Rai 2019
Festival Foho Rai 2019 "Lahirkan" Museum Budaya Pertama di Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA –  Setelah Festival Fulan Fehan sukses dilaksanakan pada puncakannya tanggal 28 Oktober 2019, menyusul Festival Foho Rai yang baru berakhir beberapa hari lalu.

Festival Fulan Fehan telah digelar untuk kali ketiga dan pada tahun 2017 lalu berhasil mencatat keberhasilannya masuk rekor MURI karena menampilkan 6000 penari likurai.

Berikutnya Festival Foho Rai yang disupport oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI juga merupakan kali kedua sejak tahun 2018 lalu.

Dari Festival Foho Rai tahun 2019 ternyata berhasil melahirkan sebuah museum budaya pertama di Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL yang dikenal dengan nama Museum Foho Rai.

BACA JUGA : Pengerjaan Jalan Dalam Kota Atambua Senilai Rp 13,8 Miliar Terkesan “Tambal Sulam”

BACA JUGA : Pesona Air Terjun di Perbatasan RI-RDTL, Syaratnya Warga Indonesia Harus Berjalan Kaki Susuri Sungai Hingga Kantongi Dokumen

BACA JUGA : Butuh Uang, Warga Belu Perbatasan RI-RDTL Bisa Gadai Kain Tenun di Pegadaian

Festival Foho Rai 2019 "Lahirkan" Museum Budaya Pertama di Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL
Foto bersama usai peresmian Museum Foho Rai di Kampung Adat Matabesi Lidak, Selasa (12/11/2019). foto by Kominfo Belu

Dilansir Dinas Kominfo Kabupaten Belu, peresmian Museum Foho Rai ini dilakukan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wayan Darmawan pada Selasa (12/11/2019).

Peresmian Museum Foho Rai Belu yang bertempat di Kampung Adat Matabesi, Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat ditandai pengguntingan pita.

Untuk diketahui, Museum Foho Rai merupakan sebuah museum rintisan sekelompok anak muda milineal pecinta dan penggembangan budaya di Kabupaten Belu yang tergabung dalam satu wadah yang bernama Komunitas Foho Rai.

Museum ini menjadi sebuah inisiatif Komunitas Foho Rai yang merupakan pecinta seni dan budaya yang berkeinginan kuat untuk mengoleksi, mengumpulkan dan memamerkan, serta melestarikan kekayaan budaya yang ada di Kabupaten Belu.

Pengresmian Museum Komunitas Foho Rai Belu ini dilakukan untuk memperkenalkan kepada dunia dan kepada generasi penerus tentang berbagai macam barang peninggalan bersejarah.

Acara ini dihadiri oleh Perwakilan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI, Koordinator Pusat Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, Kepala Museum Nasional Kemendikbud Jakarta, Pejabat Perwakilan Gubernur NTT – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Plt Kadis Pariwisata Kabupaten Belu yang juga Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Belu, Indonesiana, Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Pimpinan Beacukai, Ketua Dekranasda Kabupaten Belu, Komunitas Pecinta Sejarah Timor dan masyarakat yang ada di kampung Adat Matabesi.

Dalam sambutan Gubernur Nusa Tenggara Timur yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wayan Darmawan memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan Komunitas Foho Rai ini untuk membangun sebuah museum budaya dan ini merupakan museum budaya pertama yang ada di Kabupaten Belu.

“Dan masih dalam semangat Hari Pahlawan ke-74, untuk itu biarlah kita menjadi pahlawan – pahlawan masa kini yang terus berjuang untuk membangun bangsa dan negara,” ujarnya seperti dilansir Infokom Belu.

Kepala Museum Nasional Kemendikbud Jakarta, Siswanto mengatakan dengan diresmikan Museum Foho Rai ini mendapat apresiiasi  dari Museum Nasional Jakarta.

Dia meinta seluruh elemen masyarakat, adat, serta komunitas–komunitas yang sudah bersatu padu untuk mendirikan museum, supaya lebih berkembang.

“Cara perolehan koleksi-koleksinya juga unik langsung masyarakat menyumbangkan, jadi tidak ada paksaan dari siapapun dan semua perolehan koleksi didapatkan atas kesadaran masyarakat untuk melestarikan, dan yang terpenting agar adat dan budaya kita tetap terjaga dan tidak musnah ditelan waktu, sehingga dapat dikenal oleh generasi-generasi kita yang akan datang,” tandasnya.

Plt Kadis Pariwisata Kabupaten Belu, Johanes Andes Prihatin mengatakan Pemerintah Kabupaten Belu sangat mengapresiasi terhadap aktivitas dan kepedulian komunitas untuk membangun, memperhatikan dan memelihara akar budaya, bahkan sampai saat ini keasliannya masih tetap terjaga.

Sebagai salah satu tugas pokok Dinas Pariwisata, ada 3 yakni usaha mendatangkan orang kesuatu tempat, menahan orang selama mungkin dan pulang membawa sesuatu dari tempat yang dikunjungi.

“Tugas kami dari Dinas Pariwisata dengan dukungan pemerintah Provinsi dalam hal ini dinas pariwisata membantu menghadirkan wisatawan sebanyak mungkin di kabupaten Belu dengan daya tarik destinasi budaya kampung adat matabesi,” pungkasnya. (kominfobelu/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Fredrikus R. Bau