Di Belu, Hampir Setahun Proses Hukum Kasus Dugaan Penganiayaan oleh Kades Faturika dan Oknum PNS Polri Belum Tuntas

0
63

TIMORDAILY.COM,ATAMBUA-Silvester Nai korban kekerasan kembali datangi Kantor Polres Belu. Korban didampingi dua anggota keluarga penuhi undangan guna dimintai klarifikasi di ruang Satreskrim Polres Belu.

Demikian pantauan media di Satreskrim Polres Belu, NTT wilayah perbatasan RI-RDTL, Selasa (12/5/2020).

Kasus penganiayaan yang diduga melibatkan Kepala Desa Faturika, Benediktus Ulu dan oknum PNS Polres Belu, Yoseph Bria telah ditangani Polres Belu pasca kejadian tanggal 16 Juli 2019 lalu.

Namun, hampir setahun kejadian kasus penganiayaan tersebut belum selesai diproses. Hal itu diperkuat dengan korban yang masih datangi Polres Belu guna melakukan klarifikasi.

Kepada media, korban Silvester Nai menyampaikan saat dirinya sedang bersama dua anggota keluarga menunggu petugas untuk klarifikasi datang oknum PNS Polres Belu salah satu pelaku aniaya yang meminta untuk berdamai.

Dia meminta keadilan karena itu kepada aparat kepolisian diminta agar mengusut tuntas kasus penganiayaan terhadap dirinya sehingga para pelaku bisa diproses secara hukum.

“Kasusnya harus lanjut .Saya su kena pukul. Jadi saya tidak mau damai harus diproses. Apalagi yang pukul ini Kepala Desa Faturika dan oknum PNS Polres Belu,” ujar Silvester Nai.

Aloisius Moruk kerabat korban mengungkapkan kekesalan terhada penanganan kasus penganiayaan terhadap korban. “Kami keluarga kesal proses terhadap Kepala Desa dan PNS Polri tidak adil, ditarik ulur waktu. Tapi kalau warga kecil langsung diproses,” ujar dia.

Dikatakan bahwa, saksi yang dimiliki saat ini tiga orang namun saksi pengaduan dari korban belum menguatkan. “Polisi minta korban cari tambah saksi. Padahal sudah tiga saksi tapi bilangnya saksi tidak kuat karena masih keluarga,” jelas dia.

Dikatakan, kasusnya sudah lama dan pelaku baru minta ke korban untuk damai. Selama ini pelakunya kemana karena kejadiannya sudah hampir setahun pasca pada tanggal 16 Juli 2019 lalu.

Masih menurut Alosius Moruk, pihaknya kesulitan untuk cari saksi karena kendala waktu yang lama pasti orang tidak mau.

Kapolres Belu AKBP Clifry Lapian melalui Kasat Reskrim Polres Belu AKP Sepuh Ade Irsyam Siregar ketika dikonfirmasi awak media mengatakan, pihaknya akan segera menggelar perkara kasus penganiayaan Rabu (13/5) bersama anggotanya sehingga bisa mendapat keterangan secara baik.

BACA JUGA : Polisi Masih Dalami Kasus Dugaan Penganiayaan Oleh Kades Faturika dan PNS Polres Belu

BACA JUGA : Polres Belu : Kasus Penganiayaan Oleh Kades Faturika, Oknum PNS dan Warga Dalam Proses Pendalaman

BACA JUGA : Polres Belu Dinilai Lambat Tangani Kasus Dugaan Penganiayaan Oleh Kades dan PNS Polres Belu, Ternyata Ini Alasannya

Dalam pemberitaan sebelumnya, salah satu Kepala Desa (Kades) di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu dan Seorang PNS Polres Belu dilaporkan ke polisi karena dugaan penganiayaan terhadap warga.

Korban adalah warga atas nama Silvester Nai telah melaporkan peristiwa penganiayaan tersebut ke Polsek Raimanuk untuk proses lebih lanjut.

Keluarga korban, Ferdinandus Man kepada wartawan melalui sambungan telepon, Senin (29/7/2019) mengatakan korban yang adalah adiknya telah melaporkan Kepala Desa Faturika, Bene Ulu, Yoseph Bria yang merupakan PNS di Polres Belu serta seorang lain lagi atas nama Stefanus Lau.

Ketiga pelaku ini, jelas Ferdi, melakukan penganiayaan secara bersama alias mengeroyok hingga korban mengalami sejumlah luka pada pelipis, leher dan bibir.

“Kami sudah lapor dan visum.  Sementara ambil keterangan korban dan saksi atas nama Emanuel Berek di Polsek Raimanuk,” kata Ferdinandus Man.

Mengenai kronologi kejadiannya, Ferdinandus mengatakan, ada sebuah acara rumah adat di Kampung Baru Mauasu pada Jumat (26/7/2019).

Dalam acara tersebut, lanjut Ferdi, terjadi perkelahian antara seseorang bernama Tae Man dari Webaha dengan orang lain.

“Waktu itu ada acara hatetuk uma lulik (mendirikan rumah adat, red),” ungkap Ferdi

Karena terdesak, Tae Man ini berlari ke dalam rumah adat dan menabrak sebuah meja hingga terjatuh. Tae Man yang telah terjatuh ini, lantas bangun dan terus berlari. Sedangkan korban sedang makan di dalam rumah adat tersebut.

Tak lama berselang, datanglah ketiga pelaku yang langsung memukuli korban berulang kali.

“Korban tidak tahu masalah apapun. Desa Bene (kades red) dan Yoseph Bria dan Fanus Lau datang langsung keroyok korban sampai bibir robek, telinga memar dan bengkak,” ungkap Ferdi.

Karena merasa tidak tahu masalah apapun dan telah dikeroyok oleh kepala desa dan pegawai dari Polres, korban lantas melaporkan ke polisi dan mengambil visum.

Kapolsek Raimanuk, Daniel Taek yang dikonfirmasi melalui ponselnya, Senin (29/7/2019) membenarkan adanya laporan tersebut.

Menurutnya, laporan kasus tersebut sudah diterima tetapi belum dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi.

Kapolsek juga membenarkan pelaku tiga orang yakni kepala desa, PNS Polres Belu dan warga lainnya sudah dilaporkan oleh korban.

“Laporannya seperti itu (tiga pelaku, red) tapi nanti kita dalami dulu nanti baru kita kasih informasi. Yoseph Bria itu dari Polres? Coba saya konfirmasi dia dulu karena saya tidak tahu. Nanti kita masih layangkan panggilan untuk para saksi,” ujarnya. (yan/roy/TIMORDAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Yan Bau