Dari Festival Fulan Fehan 2019 – Willy Lay Bupati Hebat, menyatukan Timor Belu dan Timor Leste

Dari Festival Fulan Fehan 2019 - Willy Lay Bupati Hebat, menyatukan Timor Belu dan Timor Leste

Saya adalah anak flores yang turut menikmati perjalanan dengan bus untuk menyaksikan Festival Fulan Fehan, sejujurnya saya tidak tau persis apa sebenarnya nilai yang hendak dipertontonkan pada festival tersebut.

Sesekali saya terdiam dan merinding dengan medan yang cukup berat. Jalan hotmix memang sedang dikerjakan, namun untuk mencapai padang luas di bukit tersebut sangat menguji adrenalin. Tikungan tajam dan tanjakan berat kami lalui. Di Flores banyak medan berat namun di sini juga seperti Flores, “wow” Expresi kaget ketika melintasi perjalanan ke sana.

Perjalanan kami menuju puncak Gunung Lakaan, di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepat di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Gunung Lakaan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Timor, NTT setelah Gunung Mutis.

Begitu sampai di puncak, sejenak mata ini terkejut memandang antusias lautan manusia, terlintas seperti hamparan sabana. Rupanya ribuan penduduk sudah menyemut menunggu gelaran puncak festival. Untuk menutup panas matahari yang lumayan terik, mereka berpayung daun lontar yang dianyam sendiri.

Dari Festival Fulan Fehan 2019 - Willy Lay Bupati Hebat, menyatukan Timor Belu dan Timor Leste

Sekum Hipmi NTT, Yuston Karwayu foto bersama penari asal Timor Leste pada acara Festival Fulan Fehan tahun 2019

Festival Fulan Fehan sendiri sudah tiga tahun ini digelar. Tahun lalu juga diadakan di bulan yang sama, di sisi lain bukit Ini, kata Bupati Belu, Willy Lay dalam sambutannya.

“Melalui Festival Fulan Fehan ini kami mengangkat tema Musical Rai Belu yang hingga saat ini cenderung dilupakan oleh masyarakat, sehingga kami ingin mempromosikan kembali dan mengajak seluruh masyarakat Rai Belu untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal, sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Belu dan memperkenalkan budaya Belu ke dunia internasional,” ujar Bupati Belu Willy Lay.

“Ribuan penari Likurai benar-benar menggetarkan Padang Sabana Fulan Fehan” dalam hati saya sangat terkagum-kagum.

Selain itu, juga ada penampilan penari asal Timor Leste yang membawakan tarian Kliburkultura Loro Oan, Aprezenta Danca Historical Baluk Rai Timor Leste, dan Husi Tempu Portugues Ba To’o Ukun Aan.

Ada nilai yang saya dapati dalam pegelaran yang dipertontonkan pada festival ini. Ya…. tidak ada sekat yang memisahkan Timor Belu dan Timor Leste dari aspek budaya. Bahwa secara administrasi mereka dipisahkan oleh batas negara tetapi dalam budaya mereka tidak bisa dipisahkan. Mereka satu, mereka bersaudara.

Di pundak generasi muda mereka, warisan ini sangat kuat ditanamkan; dan saya dapati mereka mengakui dan berkomitmen melestarikan nilai luhur ini. Saya mengakui pemimpin hebat seperti Pak Willy Lay, saya harus bilang kepada masyarakat Belu dan masyarakat NTT. Kita sedang mendambakan pemimpin besar seperti beliau, merajut persaudaraan melalui budaya.

Festivalnya seru, saya bisa belajar banyak tentang budaya Indonesia. Semakin banyak keingintahuan, semakin pengen lagi untuk belajar. (Catatan perjalanan Yuston Karwayu/Sekum Hipmi NTT, 28 Oktober 2019)

 

Loading...