Bupati Sebut Ada Kerjasama Pemkab Belu dalam RPK, Bulog; Sebatas Koordinasi, Bawaslu Klarifikasi

0
40
Bupati Belu Willy Lay Sebut Ada Kerjasama Pemkab Belu dalam RPK, Bulog Bilang Hanya Koordinasi
Bawaslu Kabupaten Belu melakukan klarifikasi ke Perum Bulog Atambua, Jumat (24/7/2020) foto by Pos Kupang

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Bupati Belu Willy Lay dalam sambutannya saat memantau sekaligus menyerahkan bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi masyarakat Keluruhan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan, Senin (20/7/2020) menyebutkan bahwa Program Rumah Pangan Kita (RPK) adalah program kerjasama Pemkab Belu dengan pihak Bulog Atambua seperti dilansir pos-kupang.com dengan judul Bupati Belu, Willybrodus Lay Ajak Masyarakat Jadi Sahabat Rumah Pangan Kita.(https://kupang.tribunnews.com/2020/07/20/bupati-belu-willybrodus-lay-ajak-masyarakat-jadi-sahabat-rumah-pangan-kita).

Namun berdasarkan hasil klarifkasi Bawalu Kabupaten Belu dengan pihak Bulog, program RPK merupakan program Bulog dan tidak seperti yang disebutkan Bupati Belu tersebut.

Menurut Pihak Bulog, RPK adalah program Bulog dan hubungan dengan Pemkab Belu hanya sebatas koordinasi.

Dilansir Pos Kupang.com, Pimpinan Perum Bulog Cabang Atambua, Naomi Uly yang dikonfirmasi Pos Kupang.Com di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2020) menjelaskan, program Rumah Pangan Kita merupakan program dari Bulog yang berlaku di seluruh Indonesia.

Dalam program ini, Bulog menyediakan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, tepung terigu, gula dan minyak goreng. Tujuan dari program RPK ini adalah untuk menjaga stabilisasi harga barang di pasar serta peluang usaha bagi masyarakat yang ingin berusaha demi meningkatkan ekonomi rumah tangga.

Lewat program RPK, Bulog menyediakan barang-barang kebutuhan pokok yang berkualitas dan harga lebih murah. Setiap orang yang mendaftar dalam program RPK ini disebut dengan nama Sahabat Rumah Pangan Kita.

Bulog memilih kata Sahabat dan bukan mitra karena pertimbangan sosiologis. Sahabat lebih akrab, lebih menyentuh hati dan dan selalu berkomunikasi dengan masyarakat yang bergabung dengan RPK. Sebaliknya, kata mitra kelasnya lebih diatas.

Naomi mengungkapkan, penggunaan kata Sahabat bukan hanya di Belu tetapi seluruh Indonesia dan tidak ada kaitannya dengan politik.

“Ini program Bulog yang berlaku di seluruh Indonesia. Tidak ada kaitannya dengan politik. Saya juga baru tahu kalau ada paket yang tagline sahabat,” kata Naomi.

Menurut Naomi, Bulog Atambua tidak ada MoU dengan Pemkab Belu terkait program RPK. Pemerintah dan Bulog sebatas koordinasi biasa untuk bersinergi dalam membantu masyarakat. Bulog hadir bersama pemerintah saat penyaluran bantuan penanggulangan Covid-19 karena memang Bulog memiliki peranan untuk membantu masyarakat di tengah situasi sulit seperti masa pandemi Covid-19 sekarang ini.

Naomi meminta kepada masyarakat agar tidak mempolitisir program RPK dari Bulog. Program ini sangat membantu masyarakat dan selama Bulog hadir di saat penyaluran bantuan, masyarakat sangat antusias dan senang karena mereka mendapatkan barang yang berkualitas dengan harga terjangkau.

Masyarakat terima barang di tempat tanpa harus mengeluarkan lagi biaya transportasi untuk ke kota guna membeli barang kebutuhan pokok.

Masyarakat yang membeli barang dari Bulog pun merupakan uang pribadi, setelah mereka menerima bantuan dari pemerintah.

Naomi menambahkan, sampai saat ini, jumlah Sahabat Rumah Pangan Kita di wilayah kerja Perum Bulog Cabang Atambua sebanyak 178 yang tersebar di Kabupaten Belu, Malaka dan TTU.

Bawaslu Klarifikasi Kata Sahabat

Dilansir poskupang.com, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Belu melakukan klarifikasi ke Perum Bulog Atambua terkait penggunaan kata “Sahabat” dalam program Rumah Pangan Kita (RPK).

Bawaslu meminta klarifikasi ke Perum Bulog untuk memastikan penggunaan kata “Sahabat” sehingga tidak dikonotasi lain, apalagi konotasi yang dihubungkan dengan Pilkada Belu 2020 yang mana ada bakal paslon bupati dan wakil bupati Belu memiliki tagline Sahabat.

Hal ini disampaikan Ketua Bawaslu Kabupaten Belu, Andre Parera kepada Pos Kupang.Com, Jumat (24/7/2020). Menurut Andre, hasil klarifikasi dengan Pimpinan Perum Bulog Cabang Atambua dapat dijelaskan bahwa program Rumah Pangan Kita (RPK) merupakan program dari Bulog nasional yang diluncurkan sejak tahun 2017 dan Bulog Cabang Atambua sedangkan menjalankan program RPK di Kabupaten Belu. Program RPK bukan program Pemerintah Kabupaten Belu.

Lanjut Andre, penyebutan kata “Sahabat” diberikan kepada orang yang menjadi agen atau peserta dari  program RPK dan berlaku di seluruh Indonesia, bukan dalam konotasi lain apalagi konotasi yang dihubungkan dengan Pilkada Belu.

Kehadiran kepala Bulog bersama bupati di beberapa kesempatan adalah bagian dari upaya sosialisasi program RPK oleh Bulog Cabang Atambua.

Sebelumnya diberitakan, Bupati Belu, Willybrodus Lay dalam sambutannya saat memantau sekaligus menyerahkan bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi masyarakat Keluruhan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Senin (20/7/2020) mengajak masyarakat untuk menjadi sahabat usaha dengan Bulog Atambua melalui program Rumah Pangan Kita.

Bulog menyedikan aneka jenis barang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau seperti beras premium Rp. 8.400 per kilogram, gula pasir Rp. 12.500 per kilogram serta tepung terigu Rp 8.000 dan minyak goreng Rp 12.500 per liter.

Menurut Bupati Willy Lay, dalam program Rumah Pangan Kita, Pemkab Belu bekerjasama dengan Bulog Atambua untuk menyediakan pangan berkualitas dan murah bagi masyarakat yang bersedia menjadi distributor Bulog. Tujuan program ini adalah membantu masyarakat dalam mendapat pangan dengan harga terjangkau juga bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat demi meningkatkan perekonomian rumah tangga.

“Kami bekerjasama dengan Bulog untuk menyediakan pangan berkualitas yang murah serta mengajak masyarakat menjadi distributor Bulog dan program ini mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Belu,” ungkap Bupati Willy Lay.

Lanjut Willy Lay, selain bekerjasama dengan Bulog, Pemkab Belu juga membangun kerja sama dengan Bank NTT dalam mendukung permodalan.

Bank NTT menyediakan pinjaman lunak maksimal Rp 5 juta dengan jangka waktu pengembalian cicilan pinjaman bisa setiap minggu. Dari modal yang ada, masyarakat bisa kembangkan usaha mandiri seperti menjual barang kebutuhan pokok yang dibeli dari Rumah Pangan Kita. (poskupang/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat