Belanda Diperintah Ganti Rugi pada Keluarga Korban di Indonesia Selama Masa Kolonial

0
53
Pengadilan Distrik Hugue memutuskan Pemerintah Belanda mengganti rugi terhadap keluarga korban di Indonesia yang dieksekusi pada masa kolonial tahun 1940-an. Foto : Istimewa

TIMORDAILY.COM, DEN HAAG-Pemerintah Belanda diperintah untuk mengganti rugi pada keluarga korban selama masa penjajahan di Indonesia, tepatnya di Sulawesi Selatan.

Sesuai keputusan Pengadilan Distrik Hague,  Rabu (25/03/2020), Pemerintah Belanda dituntut membayar sebanyak 178 euro terhadap keluarga korban dari 11 orang yang dieksekusi pada akhir 1940-an.

Dilansir Kompas.com, ini merupakan kali pertama angka spesifik yang dikeluarkan meski pengacara Liesbeth mengatakan kasus serupa juga pernah mendapat perlakuan sama.

Pengadilan Distrik Hague telah membuktikan, korban 11 orang tewas pada masa itu akibat kolonial Belanda. Korban tersebut sebagian besar dieksekusi secara ringkas.

BACA JUGA : Kabar Duka! Uskup Ethiopia Tutup Usia karena Virus Corona

BACA JUGA : Positif Corona Meningkat, Afrika Selatan Kunci Diri

BACA JUGA : Cegah Covid-19, Sudan Bebaskan Ribuan Tahanan

Juru bicara pengadilan Hakim, Jeanette Honee mengatakan bahwa jumlah tertinggi diberikan kepada seorang pria yang ketika berusia 10 tahun melihat sang ayah dibunuh.

Janda dari para korban eksekusi juga menerima ganti rugi sampai 3.600 euro tapi para penggugat yang masih anak-anak menerima lebih sedikit, tergantung pada usia mereka saat pembunuhan terjadi.

Pemerintah Belanda menghukumi berdasarkan jumlah terendah pada pendapatan para pria yang dieksekusi, yaitu sekitar 100 euro per tahun pada saat itu.

“Pengadilan mengakui adanya jumlah rendah ini tidak proporsional dengan rasa sakit dan kesedihan yang disebabkan oleh eksekusi para pria itu bagi anak-anak dan istri mereka.” ungkap pengadilan Belanda.

Untuk itu pemerintah Belanda menjelaskan kalau jumlah yang diberikan tidak bermaksud mengganti rasa sakit dan kesedihan itu.

Melainkan mengganti kerusakan materi yang disebabkan oleh hilangnya mata pencarian.

BACA JUGA : Tak Ada APD, Perawat di Jogja Pakai Mantel Tangani Pasien Corona

BACA JUGA : Polres Alor “Ciduk” Pelaku Penipuan Pembangunan Gereja di Alor dan Flores

BACA JUGA : Cegah Covid-19, Rumah Perubahan Dokter Agus Taolin Gandeng Golkar, Nasdem dan Gerindra Semprot Desinfektan

Pengadilan Belanda sering mendengar kasus-kasus serupa ini yang meminta kompensasi atas perbuatan kejam pemerintah Belanda yang dikenal dengan ‘pembasmian pejuang kemerdekaan Indonesia’.

Sebanyak 860 orang dibunuh regu tembak. Sebagian besar antara Desember 1946 dan April 1947 di Sulawesi yang disebut Celebes.

Pemerintah Belanda telah meminta maaf pada 2013 lalu atas pembunuhan di masa kolonial. Juga mengumumkan kompensasi bagi para janda yang ditinggal mati suami mereka karena pembunuhan tersebut.

Dua pekan lalu, Raja Belanda Willem Alexander juga memohon maaf, merupakan hal pertama kali yang dilakukan seorang raja Belanda. Atas kekerasan berlebihan kepada bangsa Indonesia selama perjuangan untuk meraih kemerdekaan Indonesia.

Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 setelah masa pendudukan singkat oleh Jepang dan beberapa ratus tahun dijajah oleh pemerintah Belanda.(Kompas/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply