Anggota DPRD ini Tergugah Bantu Keluarga Miskin di Perbatasan RI-RDTL Usai Baca Beritanya di TimorDaily.com

0
2229
Anggota DPRD ini Tergugah Bantu Keluarga Miskin di Perbatasan RI-RDTL Usai Baca Berita di TimorDaily.com
Anggota DPRD Belu, Nini Atok memberikan bantuan kepada keluarga miskin di perbatasan RI-RDTL, Kamis (26/12/2019). Foto by Nandito Fatin/TIMORDAILY.COM

TIMORDAILY.COM, ATAMBUA – Anggota DPRD Kabupaten Belu, Nini Wendelina Atok tergugah untuk membantu salah satu keluarga miskin di wilayah Perbatasan RI-RDTL yang menderita kelaparan dan tinggal di gubuk reot.

Nini Atok mendatangi keluarga miskin ini pada Kamis (26/12/2019) usai membaca berita tentang kesulitan warga ini dari pemberitaan di media TimorDaily.com.

Kepada wartawan usai menyerahkan bantuan kepada keluarga Ignasia Abuk, Nini Atok mengatakan, bantuan yang diberikan tersebut bukanlah karena dirinya sudah berkelebihan melainkan karena kepeduliannya terhadap orang kecil yang menderita.

Apalagi, lanjutnya, warga yang menderita tersebut adalah warga yang berasal dari daerah pemilihan (dapil) nya.

“Saya hari ini berkunjung pada mama Ignasia Abuk yang tinggal di RT 02 Dusun Webubur Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat (Tasbar), mereka merupakan warga Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk.

Saya cukup sedih saat melihat kondisi mereka ini, oleh karena itu, tadi saya datang lihat mereka setelah itu, pergi ke toko di halilulik sini, untuk belanja kebutuhan sembako dan lainnya yang semoga dapat membantu mereka dengan bantuan ala kadarnya ini, ” urai Nini Atok.

BACA JUGA : Belum Dapat Laporan Warga Miskin Makan Pisang, Bupati Belu Perintahkan Dinas Sosial dan Camat Untuk Data

BACA JUGA : Uskup, Bupati dan Ketua DPRD Alor Rayakan Natal Bersama Umat Katolik Kalabahi

BACA JUGA : Larangan Natal di Sumatera Barat, TPDI ; Menteri Agama Jangan Jadi Jubir Kelompok Intoleran

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini berharap, bantuan yang diberikan itu jangan dilihat dari nilainya tapi dilihat sebagai bentuk kepedulian sesama manusia dan berharap menggugah orang lain untuk turut membantu.

Ignasia Abuk yang ditemui Wartawan setelah diberikan santunan oleh Anggota DPRD Belu, Nini Wendelina Atok, mengucapkan limpah terima kasih karena sangat membantu mereka di masa sulit ini.

“Terimakasih banyak saya ucapkan pada Ibu Dewan yang hari ini sudah berkunjung pada kami dan berikan bantuan ini.

Ini sangat membantu kami sekeluarga e pa Wartawan. Karena kami ini cukup sulit untuk makan sebab kami ini petani saja, selama ini dong (pemerintah) tidak bantu kami memang, tidak tahu kenapa, ” Jelas Ignasia.

Sebelumya diberitakan, Kondisi sangat memprihatinkan dialami oleh Ignasia Abuk bersama keluarganya di Kabupaten Belu Perbatasan RI – RDTL.

Tak hanya tinggal di gubuk reot selama 10 tahun terakhir, ternyata mereka sekeluarga berjumlah 17 orang (bukan 15 orang, red) sedang dilanda kelaparan hebat.

Saking tak ada makanan, warga Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk ini harus mengisi perut dengan mengkonsumsi pisang rebus hingga seminggu lebih.

Saat ditemui TimorDaily.com di gubuk reotnya, Sabtu (21/12/2019) sore, Ignasia Abuk mengungkapkan bahwa mereka kesulitan makanan karena tidak ada lahan. Gubuk reot yang mereka tempati itu di atas lahan milik orang lain.

“Kadang 1 minggu lebih kita makan pisang rebus saja untuk bisa bertahan hidup “, ungkapnya sembari menahan tangis.

Tentang gubuk reot yang mereka tempati itu, Ignasia mengaku dirinya dan keluarganya sudah menempati gubuk itu selama 10 tahun lebih dan belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah Daerah Belu.

“Kami tinggal disini sudah 10 tahun lebih e kaka (TimorDaily.Com, red) tapi kami selama ini tidak pernah dapat bantuan dari pak – pak besar dong (pemeritah,red) jadi kita bertahan saja e di sini,” ungkapnya.

Pada malam hari, Ignasia mengaku kesulitan untuk tidur karena gubuk reot berukuran sekitar 2 meter x 3 meter itu tak bisa menampung mereka yang berjumlah 17 orang.

“Kalau malam itu kita tidur setengah mati e, karena kita banyak di ini rumah,” katanya.

Kesulitan lainnya, lanjut Ignasia, selain kesulitan tidur di malam hari, mereka juga sangat menderita di kala hujan karena atap gubuk dari alang-alang itu sudah bocor.

“Kalau mau pindah juga, kita mau pi mana, karena ini kita pun (punya, red) rumah 1 satunya dan ini juga kita tinggal di orang pun tanah (milik orang lain yang berasal dari Bugis). Jadi kita lihat saja, kalau dong (mereka, red) usir kita kapan ju, kita siap pindah dari sini,” urainya.

Tentang bantuan dari pemerintah, Ignasia mengakui dirinya adalah salah satu penerima bantuan program keluarga harapan (PKH) yakni beras lima kilogram dan telur satu rak untuk setiap bulan namun tidak cukup membantu.

“Saya memang selama ini, ada dapat bantuan PKH tapi karena kita banyak jadi kita susah untuk makan. Kalau bisa bantu kami dulu pak – pak besar dong (pemerintah),” katanya dalam bahasa Tetun.

Untuk diketahui pekerjaan Ignasia dan suaminya yang adalah petani. Hal ini cukup menyulitkan Ignasia Abuk sekeluarga dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari -hari, ditambah lagi dengan tanah tempat tinggalnya itu milik orang lain.

Di gubuk reot tersebut, Ignasia tinggal bersama suaminya yang juga sudah renta, juga mamanya serta beberapa anak usia sekolah dan balita. (TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Laporan Wartawan : Oktafianus Fatin

Editor : Gusti Arakat

Leave a Reply