Aktivis Perempuan Sorot Kunjungan Gubernur NTT ke Pubabu Timor Tengah Selatan

0
62
Aktivis Perempuan Sorot Kunjungan Gubernur NTT ke Pubabu Timor Tengah Selatan.
Aktivis Perempuan, Adriana Anisa Tukan.

TIMORDAILY.COM, LARANTUKA-Aktivis Perempuan asal Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sorot kunjungan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat ke Pubabu, Timor Tengah Selatan (TTS), Selasa (12/5/2020).

Adriana Anisa Tukan, salah satu aktivis yang berkiblat di Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) mengecam kunjungan Viktor Laiskodat ke Basipa’e yang ingin menggusur masyarakat adat Pubabu,

Kepada TimorDaily.com, Senin (18/5/2020) Nisyah Tukan sapaan akrabnya, menolak secara tegas gaya komunikasi Gubernur NTT yang dinilai mengintimidasi masyarakat.

BACA JUGA : FMN Cabang Kupang Mengecam Tindakan Penggusuran Pemprov NTT Terhadap Masyarakat Adat Pubabu

BACA JUGA : Aksi Telanjang Dada Ibu-Ibu Besipae, TPDI Minta Biro Hukum Pemprov NTT Jangan Cari Kambing Hitam Tapi Cari Perekam dan Penyebar Video

BACA JUGA : Kasat Pol PP Belu Bantah Tak Pernah Menyuruh Pedagang Berjualan di Tengah Jalan

“Saya tidak setuju dengan gaya komunikasinya ala preman,” tegas Nisyah Tukan.

Menurut Nisyah Tukan, sesuai video yang beredar di media sosial Gubernur NTT hendak menemui ibu-ibu saat aksi telanjang dada sebagai tindakan yang tidak etis.

Pasalnya, aksi itu sebagai bentuk penolakan secara tegas terhadap Gubernur NTT.

“Saya tidak terima sekali, pas ibu-ibu telanjang dada dan aksi, tapi bapa tua (Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.red) ngotot masuk,” tandasnya.

Nisyah Tukan menegaskan, kehadiran Gubernur NTT di Basipa’e sebagai kepanjangan tangan dari kapitalis yang terus melakukan berbagai cara untuk merampas hak-hak rakyat.

Dia menandaskan, hal tersebut bentuk manifestasi dari sistem setengah jajahan setengah feodal.

“Tentu semua ini tidak berdiri sendiri, tapi sebagai manifestasi dari sistem setengah jajahan setengah feodal,” ungkapnya.

Gubernur NTT Langgar Physical Distancing

Nisyah Tukan juga menuturkan, sebagai seorang pemimpin di Nusa Tenggara Timur, seharusnya Viktor Bungtilu Laiskodat memberikan contoh pada masyarakat tentang penerapan physical distancing untuk memutuskan penyebaran Covid-19.

Kunjungan Gubernur NTT di Basipa’e, masyarakat adat Pubabu, Timor Tengah Selatan (TTS), pada 12 Mei 2020 dinilai melanggar aturan yang dikeluarkan pemerintah pusat dan termasuk surat edaran yang dikeluarkan Pemprov NTT sendiri.

“Bagaimana masyarakat mau taat peraturan soal physical distancing. Toh, yang buat aturan saja dengan bebas melanggar,” tuturnya.

BACA JUGA : Tengkulak Beroperasi, Harga Komoditi Petani di Pasar Baiona Flores Timur Mencekik

BACA JUGA : Ingin Bantu Warga Belu di Luar Daerah, Bupati Belu Willy Lay Masih Tinjau Regulasi

BACA JUGA : TPDI Tegaskan Jangan Kelola Polres Sikka Pakai Sistem Papalele dan Korbankan Kepentingan Publik

Untuk diketahui, dalam mencegah penyebaran Covid-19 dilingkup pemprov NTT, Gubernur Viktor Laiskodat menerapkan kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran Gubernur NTT Nomor 443.1/06/BO2.1 tentang Pengaturan dan Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dan Badan Usaha Milik Negara/Daerah/Swasta Dalam Rangka Pencegahan Corona Virus Desease-19 (Covid-19) yang diterbitkan sejak 21 Maret 2020.

Selain itu, dalam pemberitaan di beberapa media online, Gubernur NTT selalu menghimbau pada masyarakat untuk menerapkan Maklumat Kapolri yang melarang kegiatan pengumpul massa dalam mendukung pencegahan penyebaran virus corona baru atau Covid-19.

Viktor Bungtilu Laiskodat juga mengungkapkan pada masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.(gus/TIMOR DAILY/TIMORDAILY.COM)

Editor : Gusti Arakat